Palembang,Focuskini
Transformasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh kualitas calon guru yang siap menghadapi realitas ruang kelas. Semangat itulah yang kini dijalani 14 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Palembang melalui program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SMA Negeri 2 Palembang.
Sejak 2 Maret hingga 15 Mei 2026, para mahasiswa tersebut diterjunkan langsung ke lingkungan sekolah untuk merasakan dinamika dunia pendidikan yang sesungguhnya. Program ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa calon guru agar tidak hanya menguasai teori pendidikan di bangku kuliah, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam praktik pembelajaran di kelas.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Badan Pengurus PGRI Universitas PGRI Palembang, Dr. Hj. Meilia Rosani, S.H., M.H., melalui Wakil Ketua BPH BP PGRI UPGRI, Drs. H. Lukman Haris, M.Si, menjelaskan bahwa program PLP dirancang sebagai proses pembelajaran komprehensif bagi mahasiswa calon pendidik.
Menurutnya, selama menjalani program tersebut, mahasiswa tidak sekadar hadir sebagai pengamat, tetapi terlibat aktif dalam berbagai aktivitas akademik maupun nonakademik di sekolah.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami secara langsung bagaimana proses pembelajaran berlangsung di kelas, mulai dari interaksi antara guru dan siswa hingga strategi pengelolaan kelas yang efektif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tahap awal kegiatan PLP diawali dengan observasi pembelajaran di kelas. Pada tahap ini, mahasiswa mempelajari berbagai pendekatan pedagogis yang digunakan oleh guru berpengalaman sekaligus memahami karakteristik peserta didik dalam situasi pembelajaran yang nyata.
Observasi tersebut menjadi fondasi penting bagi mahasiswa untuk membangun pemahaman mengenai praktik pendidikan yang sesungguhnya.
Selain melakukan pengamatan, mahasiswa juga dilibatkan dalam penyusunan berbagai perangkat pembelajaran. Kegiatan ini mencakup penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pengembangan bahan ajar, hingga perancangan metode evaluasi pembelajaran.
“Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi kelas yang beragam sekaligus mengasah kemampuan merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Tahapan yang menjadi inti dari program PLP adalah praktik mengajar terbimbing. Dalam fase ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengajar secara langsung di kelas dengan pendampingan guru pamong serta dosen pembimbing,” jelasnya.
Menurut Lukman Haris, pengalaman mengajar secara langsung memberikan pembelajaran berharga bagi mahasiswa, karena mereka dapat merasakan secara nyata tantangan profesi guru.
Mulai dari menyampaikan materi pelajaran, mengelola interaksi kelas, hingga melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung.
“Pengalaman ini sangat penting karena banyak dinamika di ruang kelas yang tidak sepenuhnya bisa dipelajari melalui teori di kampus,” katanya.
Ia menambahkan,tidak hanya terlibat dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa juga diperkenalkan pada berbagai aspek pengelolaan sekolah. Mereka dilibatkan dalam kegiatan administrasi pendidikan, aktivitas kesiswaan, serta pengenalan budaya organisasi sekolah.
Keterlibatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana sebuah institusi pendidikan dikelola secara sistematis dan profesional.
“Mahasiswa dapat melihat bahwa tugas seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan kondusif,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama menjalani program PLP di SMA Negeri 2 Palembang dapat menjadi bekal penting bagi para mahasiswa dalam menapaki profesi guru di masa depan.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah melalui program praktik lapangan seperti ini merupakan langkah strategis dalam mencetak guru yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang.
“Sinergi antara kampus dan sekolah menjadi kunci dalam membentuk calon pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga matang dalam praktik pendidikan,” pungkasnya.(hasan)








