Kurikulum Merdeka Dongkrak Kualitas Belajar,Guru : Nilai Siswa Kini Lebih Aktif dan Mandiri

Palembang,Focuskini

Penerapan Kurikulum Merdeka di sejumlah sekolah terus memperlihatkan perubahan positif dalam proses belajar mengajar. Kurikulum yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan diferensiasi ini dinilai mampu mendorong siswa lebih aktif, kreatif, dan mandiri dalam memahami materi.

Guru diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan metode mengajar sesuai kebutuhan dan karakter peserta didik. Sementara siswa diajak mengeksplorasi materi melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menghafal konsep.

Sejumlah sekolah melaporkan bahwa pendekatan ini membuat proses pembelajaran lebih relevan dan bermakna. Siswa terlihat lebih berani bertanya, terbiasa bekerja sama, serta mampu menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.

Sementara itu Yulinar salah satu guru SD Negeri 226 berpendapat, penerapan Kurikulum Merdeka (Kumer) di sekolah kami diterima dengan baik oleh guru maupun siswa. Fleksibilitas kurikulum ini memudahkan guru mengolah pembelajaran sesuai kemampuan serta karakter masing-masing peserta didik. Pendekatan yang relevan dengan kondisi siswa membuat pembelajaran lebih inklusif, tanpa pemisahan atau pengecualian bagi siapa pun.

Meski demikian, penerapan Kumer juga menghadirkan tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pengetahuan guru terkait teknis pelaksanaannya. Karena itu, pelatihan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar guru dapat menerapkan kurikulum ini secara optimal. Selain itu, dukungan sumber daya yang memadai juga diperlukan agar proses pembelajaran berjalan tepat sasaran.

Kami berharap Kurikulum Merdeka dapat memberikan dampak positif bagi seluruh pendidik dan peserta didik, terutama dalam membentuk pembelajaran yang lebih bermakna dan berkarakter,”katanya

Terpisah,Penerapan Kurikulum Merdeka dinilai memberikan perubahan signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di SDN 123 Palembang. Guru SDN 123 Palembang, Evy Erika Aulia, menyebut kurikulum ini memberi ruang lebih luas bagi guru untuk merancang pembelajaran yang kontekstual dan sesuai kebutuhan peserta didik masa kini.

Salah satu aspek yang dianggap paling berdampak adalah projek Profil Pelajar Pancasila. Melalui projek tersebut, siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga terlibat dalam kegiatan kolaboratif dan pengalaman langsung. “Anak-anak menjadi lebih percaya diri, terbiasa bekerja sama, dan kemampuan berpikir kritis serta kreativitas mereka tampak meningkat,” ujarnya. Antusiasme siswa juga disebut melonjak karena pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,”tuturnya

Meski demikian, Evy mengakui ada sejumlah tantangan dalam penerapannya. Guru dituntut lebih kreatif menyusun modul ajar dan harus meluangkan waktu ekstra untuk melakukan asesmen yang beragam. Keterbatasan teknologi dan sinyal juga menjadi kendala ketika pembelajaran memanfaatkan perangkat digital.

Kendati demikian, Evy menilai Kurikulum Merdeka tetap membawa dampak positif bagi sekolah. Ia optimistis, dengan dukungan warga sekolah dan orang tua, kurikulum ini dapat melahirkan peserta didik yang merdeka belajar, berkarakter, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.(hsn)