Palembang,Focuskini
Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat tidak hanya ditentukan oleh benih unggul dan pemupukan yang tepat. Kesalahan saat panen dan penanganan pascapanen juga menjadi penyebab utama kehilangan hasil (losses), menurunnya kualitas tandan buah segar (TBS), hingga rendahnya rendemen minyak sawit.
Untuk meningkatkan kapasitas pekebun, PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) menyelenggarakan Pelatihan Petani Sawit Kelas Teknik Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Pelatihan yang dilaksanakan di Palembang ini diikuti 133 peserta yang terdiri atas pekebun, penyuluh, dan perwakilan dinas terkait dari Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Peserta terbagi dalam empat angkatan, yakni Angkatan VI (35 orang), VII (34 orang), VIII (32 orang), dan IX (32 orang). Mereka berasal dari Koperasi Jasa Tani Sepakat Bersama, Koperasi Serasan Mulya, Koperasi Tani Mulia, dan Koperasi Subur Makmur. Kegiatan ini juga diikuti empat penyuluh Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim serta dua peserta dari Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan.
Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN, Fandi Hidayat, mengatakan pelatihan bertujuan meningkatkan kompetensi SDM agar mampu menerapkan teknik panen dan pascapanen yang baik di lapangan.
“Melalui pelatihan ini diharapkan peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teori, tetapi juga mampu menerapkan praktik yang tepat sehingga produktivitas, mutu hasil, dan efisiensi usaha perkebunan terus meningkat,” ujarnya.
Fandi menegaskan, kesalahan dalam menentukan tingkat kematangan buah, tidak mengutip brondolan, maupun penanganan TBS yang kurang baik dapat menimbulkan kerugian yang sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, peserta diharapkan aktif mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dan menyebarluaskan ilmu yang diperoleh kepada pekebun lain di daerahnya.
Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra, mengapresiasi sinergi Ditjenbun, BPDP, dan PT RPN dalam pengembangan SDM perkebunan. Menurutnya, panen merupakan tahapan yang sangat menentukan kualitas hasil sehingga harus dilakukan pada tingkat kematangan yang tepat dan dengan teknik yang benar.
“Jika waktu pemanenan tidak tepat, maka hasil maupun mutu produk akan berkurang. Karena itu teknik panen dan penanganan pascapanen menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas hasil sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas,” katanya.
Dian menambahkan, penanganan pascapanen mulai dari pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan hingga pengemasan harus sesuai standar agar mutu TBS tetap terjaga. Ia juga menilai peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan, pelatihan, dan pendampingan merupakan investasi jangka panjang, mengingat sebagian besar kebun sawit di Sumatera Selatan merupakan perkebunan rakyat.
“Kehadiran Bapak dan Ibu pada pelatihan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga. Apa yang diperoleh selama pelatihan harus diterapkan di kebun masing-masing dan ditularkan kepada kelompok tani lainnya di Muara Enim,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Muslim Budiman, mengatakan penerapan teknik panen yang benar akan menghasilkan TBS berkualitas, mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja, serta memberikan nilai jual yang lebih baik.
“Dengan semakin baiknya kualitas TBS yang dihasilkan, rendemen minyak sawit juga akan meningkat. Pada akhirnya kondisi tersebut akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pekebun sekaligus mendukung pengelolaan usaha perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan,” katanya.
Selama pelatihan, peserta mempelajari falsafah dan regulasi panen serta pascapanen, organisasi dan sistem panen, persiapan panen, kriteria matang panen, taksasi produksi, teknik memanen, penanganan TBS dan brondolan, manajemen tajuk, hingga sistem pengangkutan dan ketertelusuran (traceability). Untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang telah diperoleh di kelas, pelatihan ini juga dilengkapi dengan kegiatan field trip (kunjungan lapangan) pada 23 Juli 2026 ke PT Bina Sawit Makmur dan PT Perkebunan Minanga Ogan. Melalui kunjungan tersebut, peserta akan melihat secara langsung penerapan standar operasional panen dan pascapanen di perusahaan perkebunan sebagai referensi untuk diterapkan di kebun masing-masing.
Melalui Program SDMP 2026, BPDP, Ditjenbun, dan PT RPN berharap semakin banyak pekebun dan penyuluh mampu menjadi penggerak penerapan praktik panen yang baik sehingga losses dapat ditekan, kualitas TBS dan rendemen minyak meningkat, serta produktivitas perkebunan sawit rakyat di Muara Enim terus berkembang secara berkelanjutan.(soim)








