Palembang,Focuskini
Setelah masyarakat dihadapkan pada ancaman berbagai penyakit menular, termasuk yang kerap disebut sebagai super flu, kewaspadaan publik kembali diuji dengan munculnya ancaman virus Nipah. Virus ini merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir atau inang alaminya.
Meski bukan penyakit baru dalam dunia kesehatan, virus Nipah tetap menjadi perhatian serius karena tingkat fatalitasnya yang tinggi. Penularan dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, terutama buah-buahan yang tercemar air liur atau bekas gigitan hewan pembawa virus.
Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya berupa demam tinggi akut, disertai sakit kepala dan nyeri otot. Dalam kasus tertentu, penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi gangguan serius pada sistem saraf, seperti penurunan kesadaran, kejang-kejang, hingga ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi berakibat fatal.
Menyikapi potensi ancaman tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Misral, S.N., M.Sn., menegaskan bahwa lingkungan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam penerapan pola hidup bersih dan sehat.
“Sekolah adalah ruang publik dengan intensitas interaksi yang tinggi. Karena itu, kami menekankan agar seluruh satuan pendidikan menerapkan pola hidup bersih secara konsisten, seperti membiasakan cuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas,” tegasnya,Kamis (5/2/2026)
Menurutnya, pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan penyakit akibat aktivitas yang padat dan interaksi yang intens. Oleh sebab itu, langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pembiasaan perilaku sehat di lingkungan sekolah.
Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mendorong seluruh SMA dan SMK untuk tidak hanya menyediakan fasilitas pendukung, seperti sarana cuci tangan dan sanitasi yang layak, tetapi juga memperkuat edukasi kesehatan kepada peserta didik. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dinilai sebagai langkah paling mendasar sekaligus efektif dalam memutus mata rantai penularan penyakit.
“Pola hidup sehat tidak cukup hanya diimbau, tetapi harus dibiasakan. Ini soal membangun kesadaran jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para guru agar berperan aktif mengingatkan siswa untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sementara itu, pihak sekolah diminta memastikan kantin sekolah menerapkan standar kebersihan pangan yang ketat.
Pemerintah, lanjut Misral, menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada dan disiplin dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Virus Nipah memang berbahaya, tetapi risiko penularannya dapat ditekan melalui langkah-langkah pencegahan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Kedisiplinan menjaga kebersihan adalah benteng utama. Ini bukan hanya untuk menghadapi virus Nipah, tetapi juga berbagai penyakit menular lainnya,” tutupnya.(hasan)














