Palembang,Focuskini
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi menerjunkan tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Sumatera Selatan guna membasahi lahan gambut dan memicu hujan buatan di wilayah rawan kebakaran.
Langkah preventif menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino ini dipusatkan di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, selama 12 hari, mulai 19 hingga 30 Juli 2026.
“Perubahan paradigma pengendalian karhutla yang kini berfokus pada pencegahan, salah satunya melalui intervensi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan awan potensial untuk menginduksi hujan,” ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri, Rabu (22/7/2026).
Thomas memaparkan, rekayasa cuaca ini krusial untuk menjaga Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) gambut tetap aman di atas ambang kritis.
Selain itu, pasokan air hujan hasil penyemaian ditargetkan dapat mengisi kanal, embung, waduk, dan kolam retensi sebagai cadangan air untuk operasi pemadaman darat.
Hanya dalam kurun dua hari pertama operasi, tim gabungan telah merampungkan tiga sortie penerbangan penyemaian awan konvektif.
Penerbangan difokuskan berdasarkan analisis citra radar pada titik-titik pertumbuhan awan, meliputi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Kota Palembang.
Hasil pemantauan presipitasi dan overlay track pesawat mengonfirmasi bahwa hujan berhasil turun di area sasaran, khususnya wilayah OKI.
“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum kondisi cuaca di wilayah Sumatera Selatan relatif kering, namun potensi hujan masih ada di sekitar wilayah operasi penyemaian,” katanya.
Upaya rekayasa cuaca di Sumsel ini mengadopsi keberhasilan operasi serupa yang digelar Kemenhut bersama BMKG di Provinsi Riau pada April lalu.
Kala itu, intervensi OMC terbukti mendongkrak curah hujan hingga 26,42 persen di atas rata-rata historis sekaligus menekan kemunculan titik panas (hotspot) hingga nihil.
Atas capaian awal di Sumsel, Thomas mengapresiasi sinergi lintas lembaga yang melibatkan BMKG, TNI AU, BNPB, BPBD, serta Pemerintah Daerah Sumatera Selatan.
“Selama operasi berlangsung, penting untuk memperkuat sinergi dan komunikasi, utamakan keselamatan dengan mematuhi SOP keselamatan penerbangan dan penyemaian bahan, serta optimasi dan pemantauan dampak untuk memastikan target semai sesuai pada wilayah gambut yang rawan,” pungkasnya. (Tia)










