Palembang,Focuskini
Pempek merupakan salah satu kuliner khas Palembang yang telah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Di balik popularitasnya, terdapat banyak pelaku usaha kecil yang berjuang mengembangkan bisnis pempek, salah satunya adalah usaha rumahan “Pempek Pak Eko” berhasil meningkatkan taraf hidup melalui usaha membuat pempek.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) “Pempek Pak Eko” yang mendapat bantuan dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) Cabang Palembang.
Kisah UMKM Pempek Pak Eko ini menarik sekali sebagai contoh bagaimana usaha rumahan bisa bertumbuh dari skala lokal hingga menembus pasar nasional. Pempek Pak Eko yang memulai usaha pempek dari skala rumahan dari dapur kecil di pinggiran Kota Palembang tepatnya di Jalan Taqwa Mata Merah Lorong Iskandar Kelurahan Sungai Selincah Kecamatan Kalidoni Palembang Sumatera Selatan tidak jauh dari Pelabuhan Sungai Lais Palembang.
Seperti yang diceritakan Owner Pempek Pak Eko, Sri Mulyantie, awal produksi dimulai ketika tahun 2018 dalam kondisi duka akibat ditinggal suami tercinta yang bernama Eko Soeprianto yang akrab disapa Pak Eko pada 12 Mei 2018. Pak Eko kebetulan tercatat sebagai salah satu pegawai PTP Nonpetikemas Cabang Palembang dengan jabatan terakhir Supervisor Pengadaan.

“Kepergian suami menjadi pukulan terberat dalam hidup saya, karena meninggalkan empat anak yang saat itu masih kecil-kecil dan masih membutuhkan biaya banyak untuk pendidikan dan keperluan sehari-hari. Hingga akhirnya pada hari ke-7 kepergian suami saya bertekad untuk mempunyai usaha sampingan untuk membantu perekonomian keluarga. Saya memberanikan diri membuka usaha membuat pempek dengan bermodalkan kursus membuat pempek di beberapa toko pempek terkenal di Palembang,”tutur wanita yang juga berprofesi sebagai Kepala Sekolah di SMP Pramula Palembang ini.
Diungkapkan wanita yang berusia 54 tahun ini, awal produksi dilakukan secara sederhana dengan peralatan terbatas dan pemasaran dari mulut ke mulut mulai dari saudara, lingkungan sekitar hingga teman menjadi senjata paling ampuh untuk merasakan langsung cita rasa Pempek Pak Eko, pendapatan yang diperoleh pun pada saat itu belum stabil. Awal mula produksi pempek hanya 2 Kg bahan Ikan Tenggiri menghasilkan sekitar 200 buah pempek ukuran sedang. Untuk harga 1 buah pempek saat itu dibanderol Rp 4000.
“Namun untuk konsumen pempek dari bahan baku Ikan Tenggiri hanya orang-orang tertentu. Sehingga akhirnya beralih ke Ikan Kakap untuk menyesuaikan selera pasar sekaligus menjaga konsistensi produksi dalam jumlah lebih besar dengan harga jual Rp 1500/pcs,”jelasnya.

Seiring waktu dikatakannya, melalui pemasaran dari mulut ke mulut, pesanan mulai meningkat. Pelanggan yang puas merekomendasikan kepada kerabat dan teman sehingga produksi pun bertambah menjadi 5 Kg, lalu 10 Kg/hari. Dengan meningkatnya permintaan, usaha ini terus berkembang hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan menjadi sumber penghasilan yang stabil.
Hingga tahun ke-4 di tahun 2021 dituturkannya, mulai merekrut tenaga kerja. Sebanyak 2 orang dipekerjakan untuk membantu membuat pempek mulai dari menyiapkan bahan hingga pempek siap digoreng atau direbus dengan bahan baku 20 Kg ikan. Menjelang Idul Fitri, lonjakan permintaan pempek tinggi sehinga Pempek Pak Eko harus menambah sekitar 2-4 tenaga kerja sementara agar bisa memenuhi pesanan.
Tingginya permintaan menurutnya, tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial yang telah menjadi etalase digital yang mempercepat penyebaran informasi dan promosi usaha kuliner. Hingga akhirnya Pempek Pak Eko memiliki reseller di beberapa kota di Indonesia seperti di Kota Balilkpapan, Tanggerang, Bogor, Malang, Palangkara, Bandung dan Jakarta.
Kemudian pada tahun 2024 diceritakannya, muncul keberanian untuk membuka gerai pempek di rumah dengan nama “Kedai Pempek Pak Eko” dengan merekrut sekitar 4 ibu-ibu di sekitar lingkungan rumah untuk membantu produksi pempek dan 2 remaja putri untuk melayani konsumen yang ada di kedai dan 2 remaja putra yang sudah lulus sekolah dari tempatnya mengajar bertugas mengepak pempek yang akan dikirim. Dalam satu hari bisa memproduksi 25 Kg yang menghasilkan 2500 buah pempek bahkan saat weekend atau menjelang hari raya produksi bisa mencapai hingga 50 Kg yang menghasilkan 5 ribu buah pempek. Untuk rata-rata omzet di hari biasa berkisar dari Rp 2 hingga Rp 3 juta sedangkan di weekend bisa mencapai Rp 5 juta.
“Pernah kami menolak pesanan baik dari resseler maupun konsumen karena kekurangan tenaga kerja menjelang Hari Raya Idul Fitri,”ungkapya.

Menurutnya, memberdayakan ibu-ibu sekitar rumah berarti membuka peluang kerja tanpa harus jauh dari rumah. Selain menambah penghasilan keluarga, dengan merekrut ibu-ibu juga memperkuat solidaritas dan rasa memiliki terhadap usaha yang dijalaninya.
Seiring waktu dikatakannya, permintaan meningkat signifikan sehingga pada 2025 usaha Pempek Pak Eko dilirik oleh PTP Nonpetikemas Cabang Palembang Ketika jajaran direksi berkunjung ke Pelabuhan Sungai Lais Palembang melihat ada yang membuka stand penjualan pempek. Kemudian dari pertemuan tersebut, PTP Nonpetikemas Cabang Palembang bertanya bantuan apa yang paling dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Karena permintaan resseler cukup tinggi, Pempek Pak Eko membutuhkan alat mesin vacuum sealer dan wrapping kardus.Bantuan tersebut segera direalisasikan setelah pengajuan dilakukan.Tepatnya pada Juni 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Palembang memberikan bantuan berupa alat mesin vacuum sealer dan wrapping kardus.
Bantuan yang diberikan menurutnya, sesuai dengan yang dibutuhkan karena permintaan pempek semakin meningkat dari luar kota Palembang. Bahkan pernah mengirim sampai ke luar negeri yaitu ke Swiss. Apalagi Ketika saat bulan puasa dan menjelang lebaran order dari resseler dan dari luar kota meningkat tajam, sehingga pesanan tersebut harus divakum dan wrapping. Bila divaccum produk yang dikirim lebih awet, tidak cepat basi dan rusak serta kualitas, rasa dan kebersihan produk terjaga. Kemudian diwrapping agar produk terlindungi dari debu dan air, tidak rusak saat pengiriman, membuat kemasan terlihat rapi dan memudahkan proses penyimpanan serta distribusi.
“Bantuan yang diberikan sangat membantu agar produk pempek sampai ke tangan konsumen dengan kualitas yang tetap terjaga, lebih higienis serta aman selama proses pengiriman,”ujar ibu dari 4 anak yaitu Faturahman Utama (26 tahun), M Fahri Fattuloh mahasiswa semester 4 jurusan Ilmu Komunikasi Unsri, Khalisia Siti Humaira mahasiswa semester 2 jurusan SKM Unsri dan dan M Fahrul Sandiko siswa kelas 2 SMA Pusri.
Namun, bagi wanita yang akrab disapa Bu Eko ini, sampai saat ini ia tidak pernah berhenti belajar dengan mengikuti kursus membuat pempek agar lebih berkembang dan menemukan racikan tersendiri sehingga pempek hasil olahannya tidak keras dan pas rasanya.
Dikatakannya, saat ini Kedai Pempek Pak Eko memproduksi pempek dari Ikan Tenggiri yang dibanderol Rp 4 ribu/pcs, Ikan Gabus Rp 3 ribu/pcs dan Ikan Kakap Rp 1.500/pcs. Sedangkan menu lain khas Palembang seperti pempek kapal selam dari Ikan Tenggiri Rp 20 ribu dari Ikan Gabus Rp 15 ribu dan dari Ikan Kakap Rp 10 ribu. Sementara untuk tekwan 1 Kg dari Ikan Kakap dibanderol Rp 80 ribu, Ikan Gabus Rp 120 ribu dan Ikan Tenggiri Rp 170 ribu/Kg sudah lengkap dengan bumbu. Untuk model Ikan Kakap Rp 8 ribu, Ikan Gabus Rp 12 ribu dan Ikan Tengiri Rp 17 ribu dan model gandum kuah daging Rp 7 ribu/porsi. Untuk pempek panggang dibanderol Rp 2 ribu.
“Mimpi terbesar untuk usaha pempek saya adalah memiliki tempat khusus. Kedai yang sudah ada akan ditata rapi agar tercipta kondisi yang nyaman dan menarik bagi konsumen. Kemudian bisa menambah tenaga kerja lagi untuk memberdayakan ibu-ibu di lingkungan sekitar dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”harapnya.

Sementara itu salah satu pegawai produksi pempek, Sujatmi (57 tahun) warga Lorong Iskandar mengungkapkan, sudah 10 tahun bekerja di Pempek Pak Eko. Ia bertugas untuk mengoreng pempek, bekerja mulai pukul 08.00 WIB-17.00 WIB. Terkadang harus pulang larut malam jika, pesanan pempek banyak. Untuk upah yang didapat cukup membantu perekonomian keluarga.
“Dari pendapatan yang diterima bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, listrik hingga biaya sekolah anak,”ujarnya.
Hal senada diungkapkan Rita Susilawati (62 tahun) yang bertugas merebus pempek, dari pendapatan yang diterima bisa menambah penghasilan keluarga dan membantu ekonomi keluarga. Keberadaan Kedai Pempek Pak Eko dirasakan cukup membuka lowongan pekerjaan bagi warga sekitar lingkungan terutama ibu-ibu dan remaja.
Diceritakannya, bekerja di Pempek Pak Eko sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Penghasilan yang diterimanya sangat berarti untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan keluarga. Sejak bergabung dengan usaha Pempek Pak Eko, kondisi ekonomi keluarganya menjadi lebih stabil. Ia merasa lebih mandiri karena bisa ikut menambah pemasukan keluarga.
“Pempek Pak Eko memberikan kesempatan kerja bagi saya di dekat rumah, sehingga saya tetap bisa bekerja sambil mengurus keluarga. Pendapatan tambahan ini sangat membantu keuangan keluarga kami. Dulu saya kesulitan mencari pekerjaan tetap, tetapi melalui usaha Pempek Pak Eko saya mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya Kedai Pempek Pak EKo di lingkungan kami, banyak warga termasuk saya bisa mendapatkan pekerjaan. Hal ini sangat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga,”tegasnya.
Sedangkan salah satu pelanggan setia Pempek Pak Eko, Komala (56 tahun) warga Jakarta mengungkapkan, ia mengetahui Pempek Pak Eko dari teman-teman yang berada di Palembang.
“Kebetulan saya sedang di Palembang, diajak teman saya untuk mencicipi Pempek Pak Eko. Ternyata pempeknya enak banget, ikannya terasa dan kuah cuko-nya pas. Tekstur pempeknya kenyal dan gurih dan cocok dimakan kapan saja. Pertama kali coba langsung suka, pempeknya tidak amis dan terasa homemade. Karena itu saya berencana memesan pempek Pak Eko untuk dibawa pulang ke Jakarta untuk oleh-oleh, selain enak harganya juga merakyat,”tuturnya.
Hal senada dikatakan Sarah (45 tahun) warga Jalan Peternakan Sungai Selayur Kalidoni Palembang, bahwa Pempek Pak Eko memiliki rasa autentik khas Palembang.
“Saya sudah beberapa kali beli di sini, kualitas rasanya selalu konsisten. recommended untuk pecinta pempek. Cuko pempeknya mantap, pedas manisnya seimbang. Rasanya khas dan bikin nagih. Saya paling suka pempek pistel dan model gandum, selain memiliki cita rasa khas untuk harga juga ramah di kantong,”ungkapnya.
Bila membeli Pempek Pak Eko dan dibawa pulang dikatakannya, anak-anak sampai nambah terus karena pempeknya lembut dan gurih. Begitu juga Ketika ada keluarga atau teman serta handaitulan dari luar Palembang, ia selalu membeli Pempek Pak Eko untuk dikirim. Karena pelayanannya ramah dan pengirimannya cepat, pempek masih fresh dan lezat. Dikemas rapi, rasa enak dan cuko benar-benar khas serta kualitas terjaga.
“Pempek Pak Eko cocok untuk oleh-oleh maupun makan bersama keluarga,”ujarnya.

Sementara itu Plh Deputi Manager Pendukung Operasi PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, Elvin Romanza mengatakan, penyaluran bantuan alat produksi kepada UMKM di Palembang “Pempek Pak Eko” merupakan wujud nyata komitmen PTP Nonpetikemas dalam program TJSL untuk mendukung pengembangan usaha dan peningkatan kapasitas operasional UMKM tersebut.
Dijelaskannya, Kedai Pempek Pak Eko dipilih karena memiliki produk unggulan khas daerah yang berkualitas, memiliki potensi usaha yang baik, serta konsisten dalam menjalankan usahanya. Selain itu, usaha ini dinilai mampu menjadi representasi UMKM lokal yang dapat berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. PTP Nonpetikemas juga melihat adanya semangat untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas produk maupun pelayanan.
“Pempek Pak Eko dipilih dalam program TJSL pada tahun 2025 dengan bantuan yang diberikan berupa bantuan alat produksi yaitu alat mesin vacuum sealer dan wrapping kardus,”jelasnya.
Diharapkannya, dari program bantuan TJSL tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Dengan adanya bantuan tersebut UMKM dapat membantu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pemasaran produk serta mendorong kemandirian dan kesejahteraan pelaku UMKM.(soimah)












