Palembang,Focuskini
Setelah pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS) di tingkat SD dan SMP selesai digelar, para guru kini memasuki tahap penting lainnya,pengisian rapor peserta didik. ASAS sendiri merupakan evaluasi menyeluruh di akhir semester yang bertujuan mengukur pencapaian kompetensi siswa terhadap materi yang telah dipelajari.Kegiatan ini menjadi bagian vital dalam implementasi Kurikulum Merdeka,yang menekankan penilaian tidak hanya pada hasil,tetapi juga proses dan perkembangan siswa secara utuh.
Di SMP Negeri 19 Palembang, guru-guru tampak sibuk merampungkan pengisian nilai akademis maupun non-akademis. Salah satu guru,Rully Agustina, S.Pd.,M.M.,mengungkapkan bahwa proses ini memerlukan ketelitian karena penilaian harus menggambarkan perkembangan siswa secara komprehensif.
“Pengisian rapor semester ganjil mencakup input nilai akademis baik pengetahuan maupun keterampilan serta nilai non-akademis seperti sikap.Semua dilakukan melalui aplikasi seperti Dapodik.Kami juga menuliskan narasi deskriptif untuk mencerminkan perkembangan siswa sesuai Kurikulum Merdeka, mulai dari aspek agama,karakter, sosial,literasi,numerasi hingga sains,” ujar Rully.
Ia menambahkan bahwa narasi wali kelas juga menjadi bagian penting, karena memberikan apresiasi sekaligus saran bagi siswa.
“Biasanya kami menuliskan catatan singkat, misalnya terkait kedisiplinan atau keaktifan siswa di kelas. Ini penting sebagai panduan untuk perbaikan di semester berikutnya,” katanya.
Menurut Rully,aspek penilaian dalam rapor terdiri dari dua bagian utama.“Aspek akademis mencakup kemampuan kognitif dan psikomotorik untuk setiap mata pelajaran,mulai dari Matematika,Bahasa Indonesia,IPA, IPS,hingga mapel lainnya,” jelasnya.
Sementara itu,untuk nilai non-akademis,ia menekankan peran penilaian karakter.Nilai non-akademis meliputi sikap spiritual dan sosial,budi pekerti,jati diri,serta kemampuan berinteraksi. Semua ini merujuk pada capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka,” tambah Rully.
Sementara itu, Andi, salah satu guru SD di Palembang, menilai bahwa pengisian rapor di tingkat sekolah dasar memiliki tantangan berbeda. Ia menekankan bahwa fokus guru SD tidak hanya pada pencapaian materi, tetapi juga pada pembentukan karakter dasar anak.
“Di SD,rapor bukan sekadar angka. Kami harus benar-benar memahami perkembangan anak secara menyeluruh,mulai dari kemampuan membaca,menulis,berhitung, hingga sikap sehari-hari seperti tanggung jawab,kemandirian, dan kemampuan bekerja sama,” ujarnya.
Andi menambahkan bahwa Kurikulum Merdeka memberi ruang lebih besar bagi guru untuk menilai proses belajar,bukan hanya hasil akhir.
“Kami menuliskan deskripsi naratif yang menggambarkan perkembangan setiap anak. Misalnya,bagaimana ia mulai berani bertanya,menunjukkan empati,atau meningkatkan keterampilan literasi. Semua ini penting agar orang tua tidak hanya melihat nilai,tetapi juga memahami perjalanan belajar anaknya,” tuturnya.
Menurut Andi,proses pengisian rapor memang menyita waktu, namun memberikan manfaat besar bagi guru,siswa,dan orang tua.
“Rapor yang baik dapat menjadi jembatan komunikasi.Orang tua bisa memahami kekuatan anak sekaligus area yang perlu dibimbing. Itulah esensi Kurikulum Merdeka: memanusiakan proses belajar,” pungkasnya.(hsn)














