Larangan Corat-coret Kelulusan Diperketat, Disdik Sumsel: Rayakan dengan Martabat, Bukan Euforia

Palembang,Focuskini

Euforia kelulusan pelajar di Sumatera Selatan kini dihadapkan pada aturan tegas. Dinas Pendidikan Sumatera Selatan resmi memperketat larangan aksi corat-coret seragam sekolah yang selama ini kerap mewarnai pengumuman kelulusan siswa SMA.

Langkah ini bukan sekadar imbauan. Disdik menegaskan, praktik mencorat-coret seragam dinilai tidak lagi relevan dan justru mencederai nilai pendidikan itu sendiri. Selain berpotensi memicu vandalisme, tradisi tersebut juga dianggap mengabaikan makna simbolis seragam sebagai identitas pelajar.

Kepala Bidang SMA Disdik Sumsel, Basuni, menegaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap momen kelulusan harus segera dilakukan. Ia menilai, perayaan yang berlebihan justru berisiko mengarah pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan.

“Tidak ada lagi ruang untuk corat-coret seragam. Kelulusan harus dirayakan dengan cara yang lebih bermakna, bukan sekadar pelampiasan euforia,” tegas Basuni.

Ia mengungkapkan, instruksi telah disebarkan ke seluruh SMA di wilayah Sumsel untuk memperketat pengawasan. Sekolah diminta tidak hanya mencegah aksi corat-coret, tetapi juga mengantisipasi konvoi kendaraan dan potensi gangguan ketertiban umum yang kerap menyertai momen kelulusan.

Disdik juga menyoroti aspek kemanfaatan seragam sekolah. Alih-alih dirusak, seragam dinilai masih memiliki nilai guna dan bisa disalurkan kepada siswa yang membutuhkan. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan empati sosial sekaligus mengajarkan tanggung jawab kepada para lulusan.

Lebih jauh, sekolah didorong mengemas perayaan kelulusan dalam kegiatan yang konstruktif. Mulai dari doa bersama, aksi bakti sosial, hingga kegiatan kreatif yang memberi nilai tambah bagi siswa dan lingkungan sekitar.

“Kelulusan adalah titik awal, bukan akhir. Ini momen syukur yang seharusnya dirayakan dengan cara yang beradab dan memberi dampak positif,” ujar Basuni.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri Sumatera Selatan, Zulkarnain, memastikan pihak sekolah telah mengantisipasi potensi kerumunan siswa. Pengumuman kelulusan dilakukan secara daring untuk meminimalisasi pergerakan dan berkumpulnya pelajar di lingkungan sekolah.

Pengumuman kami lakukan pada sore hari melalui website. Guru dan petugas keamanan juga kami siagakan untuk memastikan tidak ada siswa yang berkumpul.

“Pengetatan ini menjadi sinyal jelas tradisi lama yang tidak memberi nilai edukatif mulai ditinggalkan. Disdik Sumsel ingin memastikan, kelulusan tidak lagi identik dengan hura-hura, melainkan menjadi refleksi kedewasaan dan tanggung jawab generasi muda,” pungkasnya (Has)