OKU,Focuskini
Pemandangan tumpukan serbuk dan limbah bambu yang biasanya hanya dibakar dan menjadi polusi di Desa Banu Ayu Kecamatan Lubuk Batang Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan (Sumsel) kini berubah total. Di tangan kreatif kelompok tani setempat, limbah tersebut disulap menjadi media tanam jamur tiram yang super subur dan bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan melihat melimpahnya limbah dari industri kerajinan bambu dan anyaman di desa tersebut. Selama ini serbuk bambu dianggap sampah yang tidak berguna. Namun setelah melalui berbagai percobaan, ternyata serbuk bambu memiliki kandungan selulosa yang sangat baik untuk pertumbuhan miselium jamur, bahkan lebih baik dari serbuk kayu gergaji yang selama ini umum digunakan.
Seperti yang diceritakan Ketua Kelompok Tunas Muda sebagai produsen penghasil limbah serbuk bambu, Noprian, bahwa awal mula ide memanfaatkan serbuk bambu menjadi media jamur berawal dari potensi limbah yang dihasilkan oleh Kelompok Tunas Muda di Desa Banu Ayu dalam kegiatan produksi berbahan dasar bambu.

“Kami melihat bahwa serbuk bambu yang dihasilkan masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Dari situ, kami mencoba mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular dengan menghubungkan kegiatan usaha yang sudah ada dengan peluang usaha baru di bidang budidaya jamur tiram. Inovasi ini bertujuan mengurangi material yang berpotensi terbuang, kemudian diuji sebagai bahan media baglog jamur tiram, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok perempuan,”jelasnya.
Dikatakan Noprian, sebelumnya, serbuk bambu belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi dibuang atau dibakar. Padahal, material tersebut masih berpotensi dimanfaatkan kembali. Melalui program tersebut, Kelompok Tunas Muda berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi produk baru.
“Namun, kami tetap melakukan pengujian terlebih dahulu untuk memastikan serbuk bambu dapat digunakan sebagai bahan media budidaya jamur,”tuturnya.
Pengembangan inovasi tersebut dikatakannya, mulai dirintis pada tahun 2026 sebagai bagian dari pengembangan program Gelora Banu Ayu. Diawali prosesnya dengan identifikasi potensi limbah, kemudian berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian Universitas Baturaja untuk mendukung proses pembelajaran dan pengujian teknis. Pada Juli 2026, dilaksanakan kegiatan pendampingan budidaya jamur tiram bersama kelompok masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.
“Jadi, inovasi ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan limbah, tetapi juga pada transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas masyarakat,”tutur pria yang juga menjadi local hero setempat.
Sementara itu Pengelola Budidaya Jamur Tiram, Herdiana menjelaskan, untuk komposisi media campuran yang dipakai pada tahap awal untuk formulasi media per 100 Kg/limbah serbuk bambu terdiri dari serbuk bambu: 85–88 Kg, Bekatul 10–12 Kg, Kapur (CaCO₃) 1–2 Kg dan air hingga kadar air 60–65 %.
Komposisi tersebut dijelaskan wanita yang juga menjadi Ketua Kelompok Jamur Bumi Ayu, merupakan formulasi awal yang dikembangkan dalam proses pendampingan. Serbuk bambu berfungsi sebagai bahan utama media, dedak sebagai sumber nutrisi tambahan, sedangkan kapur membantu mengatur kondisi keasaman media. Dalam penerapannya, komposisi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi bahan baku dan hasil pengujian.

“Kami juga memperhatikan proses pencampuran, kadar air, sterilisasi dan kebersihan agar media dapat mendukung pertumbuhan miselium dengan baik,”ujarnya.
Untuk proses dari pembuatan baglog sampai panen pertama dijelaskannya, secara umum, proses budidaya membutuhkan waktu sekitar 30–45 hari sejak inokulasi hingga panen pertama. Waktu tersebut dapat berbeda bergantung pada pertumbuhan miselium, kualitas bibit, kondisi media, suhu, dan kelembapan. Dalam kondisi budidaya yang baik, satu baglog jamur tiram dapat menghasilkan sekitar 4–6 kali panen selama masa produksi. Produksi jamur biasanya akan menurun secara bertahap pada setiap periode panen berikutnya hingga akhirnya baglog tidak lagi menghasilkan jamur.
Sedangkan kendala terbesar saat pertama kali mencoba serbuk bambu dikatakannya, adalah memastikan bahwa serbuk bambu dapat menjadi media yang sesuai untuk pertumbuhan jamur tiram. Karakteristik bahan baku dapat berbeda dari serbuk kayu yang lebih umum digunakan, sehingga komposisi nutrisi, kelembapan, kepadatan media, dan proses sterilisasi perlu diperhatikan.
Pada tahap awal pengembangan dituturkannya, pihaknya juga menghadapi tantangan dalam penyempurnaan formulasi dan proses pembuatan baglog.

“Karena itu, kami melibatkan mitra akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Baturaja untuk membantu proses pembelajaran dan evaluasi teknis. Kami memandang kendala tersebut sebagai bagian dari proses inovasi, karena tujuan kami bukan sekadar menghasilkan jamur, tetapi membangun metode pemanfaatan limbah yang dapat dipelajari, dikembangkan dan diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat”ungkapnya.
Sementara itu untuk harga jual jamur tiram dijelaskannya, saat ini sebesar Rp 30.000/Kg. Sejak kelompok mulai menjalankan kegiatan budidaya, akumulasi pendapatan penjualan telah mencapai kisaran Rp 1-3 juta. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan serbuk bambu sebagai media baglog tidak hanya berpotensi mengurangi material sisa produksi, tetapi juga menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi kelompok Jamur Bumi Ayu.
Ditegaskannya, pengembangan budidaya jamur tiram melalui Gelora Banu Ayu saat ini berfokus pada peningkatan kapasitas kelompok Jamur Bumi Ayu. Pada tahap awal, melibatkan lima ibu rumah tangga dalam kegiatan pendampingan budidaya pada Juli 2026.
“Kami ingin agar inovasi ini tidak berhenti pada kelompok penerima manfaat awal, tetapi dapat menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal yang bisa direplikasi oleh masyarakat lainnya,”ujarnya.
Ditambahkannya, untuk limbah baglog bekasnya berpotensi dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos atau pembenah tanah setelah melalui pengolahan yang sesuai. Selain itu, media bekas juga berpeluang digunakan kembali sebagai bahan baglog baru dengan penambahan dan penyesuaian komposisi bahan. Dengan demikian, siklus pemanfaatan sumber daya dapat diperpanjang, sehingga mengurangi material yang berpotensi terbuang. Namun, penggunaannya kembali perlu memperhatikan kondisi media, risiko kontaminasi dan kelayakan teknis pengolahannya.
Hingga saat ini diungkapkannya, belum ada bantuan khusus untuk usaha budidaya jamur dari Pemerintah Desa Banu Ayu maupun Dinas Pertanian OKU. Namun, pada tahap awal budidaya, pihaknya berkolaborasi dengan lembaga akademis untuk melakukan penelitian dan penyempurnaan formulasi media serbuk bambu. Sementara itu, dukungan sarana produksi, pendampingan dan pengembangan usaha difasilitasi oleh PT Pertamina Patra Niaga FT Baturaja melalui Program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan).
Sementara itu Kepala Desa Banuayu, Tamimi mengungkapkan, pandangan desa melihat potensi limbah bambu yang melimpah di Banu Ayu tidak hanya terletak pada produk utamanya, tetapi juga pada material sisa yang dihasilkan dari proses produksi. Bambu dan hasil dari prosesnya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber daya produktif bagi masyarakat.
Inovasi ini menurutnya, memberikan perspektif baru bahwa persoalan limbah dapat menjadi peluang ekonomi apabila dikelola dengan pengetahuan, pendampingan, dan kolaborasi yang tepat.
“Kami berharap pemanfaatan serbuk bambu menjadi media budidaya jamur tiram dapat menjadi salah satu contoh pengembangan potensi lokal yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik,”harapnya.
Sementara itu Pembina Kelompok Desa Banu Ayu, Ibu Laili mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan program untuk mengembangkan budidaya jamur media bambu ini menjadi BUMDes. Karena pengembangan kelembagaan menjadi salah satu peluang strategis untuk menjaga keberlanjutan inovasi ini. Pada tahap awal, kelembagaan berfokus pada penguatan kapasitas kelompok Jamur Bumi Ayu, peningkatan keterampilan budidaya, penyempurnaan media serbuk bambu serta pengembangan pencatatan produksi dan penjualan.
“Ke depan, kami membuka peluang untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Banu Ayu guna mengkaji bentuk kelembagaan yang paling sesuai, baik melalui penguatan kelompok usaha maupun kemungkinan integrasi dengan unit usaha BUMDes apabila memenuhi kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Bagi kami, yang terpenting bukan sekadar membentuk kelembagaan, tetapi memastikan usaha ini memiliki proses produksi yang konsisten, pasar yang jelas, pengelolaan keuangan yang baik, dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada keberhasilan memanfaatkan serbuk bambu menjadi media budidaya jamur tiram, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi sirkular berbasis potensi lokal.
“Kami ingin serbuk bambu yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku produktif, sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya kelompok perempuan. Ke depan, kami juga berharap metode ini dapat terus disempurnakan melalui pengujian teknis, diperluas penerapannya, serta didukung kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, akademisi, dan perusahaan. Pada akhirnya, bagi kami, “Limbah Jadi Berkah” bukan sekadar mengubah limbah menjadi produk, tetapi mengubah cara pandang masyarakat, bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat menjadi sumber penghidupan ketika dikelola melalui inovasi dan kolaborasi,”harapnya.
Sementara itu beberapa warga Desa Banuayu merespon cukup positif setelah tahu jamur bisa tumbuh dari serbuk bambu. Seperti yang diutarakan Eviwidia (35) warga Desa Banuayu bahwa pada awalnya, pemanfaatan serbuk bambu sebagai media budidaya jamur menjadi hal yang cukup baru bagi masyarakat, karena selama ini serbuk bambu lebih dikenal sebagai sisa produksi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ketika mengetahui bahwa material tersebut berpotensi diolah menjadi media budidaya jamur tiram, masyarakat mulai melihat adanya peluang baru dari limbah yang selama ini tersedia di sekitar mereka.

“Melalui pendampingan dan praktik budidaya, kami ingin membangun keyakinan masyarakat bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah ekonomi. Respons ini juga menjadi motivasi bagi kelompok Jamur Bumi Ayu untuk terus belajar, memperbaiki teknik budidaya, dan mengembangkan usaha secara bertahap, serta bisa membagikan ilmunya kepada masyarakat lain,”ujar wanita yang juga terlibat dalam program tersebut.
Sedangkan Emi Rosanti (30) warga Desa Banu Ayu menambahkan, bahwa rasa jamur tiram yang dihasilkan masih sama seperti jamur tiram pada umumnya yang menggunakan media serbuk kayu. Hal ini karena formulasi baglog yang dikembangkan masih menggunakan campuran serbuk kayu bersama serbuk bambu dan bahan pendukung lainnya.
“Sampai saat ini belum terlihat perbedaan tekstur dan rasa yang mencolok pada jamur yang dihasilkan. Dengan demikian, penambahan serbuk bambu sebagai bahan media menjadi alternatif pemanfaatan limbah tanpa mengubah karakteristik jamur secara nyata,”ungkapnya.

Sementara itu Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi menjelaskan, latar belakang Pertamina Patra Niaga Sumbagsel memilih program olahan serbuk bambu jadi media jamur sebagai program unggulan di Desa Banu Ayu karena Program Gelora Banu Ayu berangkat dari dua potensi lokal yang dapat saling menguatkan. Di satu sisi, Kelompok Tunas Muda menghasilkan limbah serbuk bambu dari kegiatan produksi tusuk sate. Di sisi lain, Kelompok Jamur Bumi Ayu memiliki potensi untuk mengembangkan budidaya jamur tiram sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat.
“Kami melihat bahwa serbuk bambu tidak harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi media tanam atau baglog jamur. Dari sinilah muncul inovasi yang menghubungkan dua kelompok masyarakat dalam satu rantai nilai ekonomi sirkular,”ujarnya.
Program tersebut dikatakannya, menjadi percontohan karena tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan peluang usaha, meningkatkan kapasitas masyarakat dan membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Dikatakannya, program tersebut dijalankan melalui pendekatan pemetaan potensi dan kebutuhan masyarakat di Desa Banu Ayu Kecamatan Lubuk Batang Kabupaten OKU. Dengan proses identifikasi melihat aktivitas ekonomi yang sudah berjalan, termasuk produksi tusuk sate oleh Kelompok Tunas Muda yang menghasilkan limbah serbuk bambu sisa dari hasil produksi mereka serta potensi pemberdayan perempuan yang dalam hal ini diinisiasi oleh Kelompok Jamur Bumi Ayu.
“Dari hasil identifikasi tersebut, kami melihat adanya peluang untuk menghubungkan kedua kelompok melalui pemanfaatan limbah menjadi bahan baku produktif. Salah satu tahapan penguatan program pada 2026 adalah pelatihan pengolahan media dan budidaya jamur yang dilaksanakan dari Juli hingga saat ini. Pendekatan kami bukan menciptakan usaha yang sepenuhnya baru tanpa dasar, melainkan mengembangkan potensi yang telah dimiliki masyarakat agar menghasilkan nilai tambah yang saling terintegrasi dan menguntungkan bagi kelompok,”jelasnya.
Dijelaskannya, Program Gelora Banu Ayu memiliki keterkaitan utama dengan pilar pemberdayaan masyarakat dan pilar ekonomi dengan aspek lingkungan sebagai fondasi inovasinya. Untuk pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan keterampilan, kapasitas kelompok, dan kemampuan mengelola usaha. Di sisi ekonomi bisa mengubah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah dan peluang pendapatan. Dari lingkungan, mengoptimalkan pemanfaatan serbuk bambu agar tidak terbuang dan menjadi bagian dari siklus produksi yang lebih produktif.
“Jadi, kekuatan program ini terletak pada integrasi ketiga aspek tersebut. Lingkungan menjadi titik masuk inovasi, pemberdayaan menjadi prosesnya dan kemandirian ekonomi menjadi salah satu hasil yang ingin dicapai,”ungkap Rusminto.

Untuk anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut dijelaskannya, sekitar Rp 60 juta dari awal proses penelitian, pembangunan fasilitas kumbung hingga proses budidaya sampai tahap akhir yang sudah dilakukan lebih dari 5 kali kegiatan budidaya. Program ini melibatkan dua kelompok masyarakat dengan peran yang saling melengkapi yaitu Kelompok Tunas Muda sebagai penghasil serbuk bambu dan Kelompok Jamur Bumi Ayu sebagai kelompok budidaya jamur tiram. Untuk penerima manfaat langsung ada 8 orang yang terlibat, penerima manfaat tidak langsung sekitar lebih dari 150 orang yang terdampak dari program ini.
Program ini dikatakannya, berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian Universitas Baturaja, khususnya dalam pendampingan teknis selama proses penelitian dan pengembangan media budidaya jamur berbahan dasar serbuk bambu. Kolaborasi ini dilatarbelakangi oleh inovasi pemanfaatan serbuk bambu sebagai media budidaya jamur yang merupakan hal baru di wilayah Kabupaten OKU. Karena itu, diperlukan keterlibatan praktisi dan tenaga ahli di bidang pertanian untuk memastikan inovasi ini dikembangkan berdasarkan kajian dan pengujian yang tepat.
Keunggulan program serbuk bambu dibanding program pemberdayaan lain dikatakannya, adalah mengintegrasikan penyelesaian persoalan lingkungan dengan penciptaan nilai ekonomi dalam satu rantai usaha masyarakat. Ada tiga keunggulan yang ingin ditonjolkan, Pertama, inovasi berbasis potensi lokal. Program memanfaatkan serbuk bambu yang sudah tersedia dari aktivitas produksi masyarakat, sehingga inovasi berangkat dari sumber daya yang nyata. Kedua, membangun keterhubungan antarkelompok. Kelompok Tunas Muda dan Kelompok Jamur Bumi Ayu tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki hubungan produksi yang saling mendukung. Ketiga, menciptakan nilai tambah. Serbuk bambu yang sebelumnya merupakan sisa produksi berpotensi menjadi bahan baku media jamur, kemudian menghasilkan produk pangan yang memiliki nilai jual.
“Program ini tidak berhenti pada pembagian bantuan maupun pelatihan, tetapi berupaya membangun ekosistem ekonomi sirkular yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat,”ujarnya
Untuk dampak ekonomi yang dirasakan warga Banu Ayu menurutnya, mulai terlihat dari pemanfaatan limbah serbuk bambu menjadi produk yang memiliki nilai jual. Dalam pengembangan program ini, sebanyak lebih dari 500 baglog telah dimanfaatkan untuk budidaya jamur tiram, dengan hasil panen mencapai lebih dari 100 kilogram dan pendapatan berkisar antara Rp 1-3 juta. Capaian ini menjadi bukti awal bahwa pendekatan ekonomi sirkular mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
Selain memperoleh keterampilan baru dan pengalaman dalam proses produksi hingga panen dikatakannya, masyarakat juga merasakan manfaat secara langsung sebagai konsumen. Mereka dapat membeli jamur tiram dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga di pasaran, sekaligus mendapatkan pengalaman unik dengan memetik jamur secara langsung dari tempat budidaya. Hal ini memberikan nilai tambah berupa pengalaman edukatif dan interaksi langsung dengan proses produksi pangan.
“Program ini membuka peluang untuk memperkuat rantai usaha lokal, mulai dari pemanfaatan serbuk bambu sebagai bahan baku, produksi media tanam, budidaya jamur, hingga pemasaran hasil panen. Dengan demikian, program ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi dari limbah tetapi juga menghadirkan manfaat bagi pembudidaya dan konsumen serta mendorong tumbuhnya usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan,”tuturnya.
Pertamina Patra Niaga Sumbagsel dikatakannya, memastikan program ini berkelanjutan dan tidak hanya bantuan sesaat setelah pendampingan selesai dengan cara melalui penguatan kapasitas masyarakat dan sistem usaha, bukan sekadar ketergantungan terhadap bantuan perusahaan. Karena itu ada empat pendekatan Utama yang dilakukan Pertamina Patra Niaga Sumbagsel yaitu penguatan keterampilan, anggota kelompok mampu menjalankan proses pembuatan media, budidaya, perawatan dan panen secara mandiri. Penguatan kelembagaan, kelompok memiliki pembagian peran, koordinasi, serta kemampuan mengelola produksi dan keuangan. Keberlanjutan ekonomi, kelompok didorong mengembangkan pemasaran, pencatatan biaya, pengelolaan hasil penjualan, dan perputaran modal usaha. Keberlanjutan lingkungan, serbuk bambu terus dimanfaatkan sebagai sumber daya produktif dalam siklus ekonomi lokal.
Evaluasi berkala menurutnya, juga penting untuk mengetahui kendala produksi, kualitas hasil, kebutuhan pasar dan perkembangan pendapatan. Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan usaha secara mandiri setelah pendampingan perusahaan berakhir.
Saat ini dikatakannya, sudah ada perencanaan untuk mengembangkan program melalui kerja sama dengan BUMDes. Kolaborasi ini diarahkan agar program tidak hanya berjalan pada kelompok penerima manfaat saat ini, tetapi dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang lebih luas, terstruktur dan berkelanjutan.
Melalui kerja sama dengan BUMDes, Pertamina Patra Niaga Sumbagsel merencanakan penguatan kapasitas kelompok, mulai dari peningkatan keterampilan produksi, pengelolaan usaha, hingga penguatan kelembagaan.
“Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya tentang menciptakan inovasi dari limbah serbuk bambu tetapi juga bagaimana inovasi tersebut dapat direplikasi, menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan tumbuh menjadi ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan,”harapnya.
Target jangka panjang PERTAMINA Patra Niaga Sumbagsel untuk program Serbuk Bambu ini dalam 1-2 tahun ke depan ditegaskannya, diarahkan pada pengembangan program dapat difokuskan pada tiga target strategis. Pertama, meningkatkan skala dan produktivitas usaha. Kelompok diharapkan mampu meningkatkan jumlah produksi secara bertahap, menjaga kualitas baglog, dan meningkatkan hasil panen berdasarkan evaluasi setiap siklus. Kedua, membangun usaha yang sehat secara ekonomi. Kelompok didorong memiliki pembukuan, perhitungan biaya dan laba, akses pasar yang lebih luas, serta sistem perputaran modal yang mendukung produksi berkelanjutan. Ketiga, memperkuat ekosistem ekonomi sirkular. Hubungan antara produsen tusuk sate, penghasil serbuk bambu, kelompok budidaya jamur, dan pembeli hasil panen diharapkan semakin terintegrasi.
Keberhasilan jangka panjang menurutnya, bukan hanya diukur dari banyaknya jamur yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola usaha secara mandiri, meningkatkan kesejahteraan, dan mempertahankan pemanfaatan limbah secara produktif. Target kuantitatif seperti jumlah baglog, target pendapatan, penambahan anggota atau perluasan pasar perlu disesuaikan dengan rencana kerja resmi untuk periode 2027–2028.
Diharapkannya, Program Gelora Banu Ayu menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kota besar, tetapi bisa tumbuh dari desa kecil dengan potensi yang luar biasa. Dari serbuk bambu yang semula dianggap limbah, lahir nilai, dari nilai tumbuh usaha dan dari usaha terbuka jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
“Gelora Banu Ayu adalah upaya kami untuk merangkul masyarakat desa yang selama ini mungkin belum banyak mendapatkan ruang, apresiasi dan kesempatan untuk menunjukkan potensinya. Kami percaya bahwa setiap masyarakat memiliki kemampuan untuk berinovasi dan berkarya, asalkan diberikan kesempatan, pendampingan, serta kepercayaan untuk berkembang,”harapnya.
Melalui program tersebut, Pertamina Patra Niaga Sumbagsel ingin membawa nama Desa Banu Ayu melampaui batas wilayahnya agar semakin banyak orang mengenal bahwa dari desa yang sederhana dapat lahir inovasi yang luar biasa.
“Kami ingin masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku perubahan, pencipta inovasi dan kebanggaan daerah yang mampu membawa karya lokal menuju panggung nasional, bahkan kancah dunia. Sebab, bagi kami, keberhasilan sejati bukan hanya ketika sebuah program mendapatkan penghargaan, melainkan ketika masyarakat yang dahulu jarang terdengar suaranya kini mampu berdiri dengan bangga, menunjukkan karyanya, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mendunia,”ujarnya.
Ditambahkannya, dari Banu Ayu untuk Indonesia, dari desa untuk dunia. Dari serbuk bambu, Pertamina Patra Niaga Sumbagsel menumbuhkan harapan, menguatkan kemandirian dan melahirkan sejuta inovasi untuk masa depan. (soim)








