Palembang,Focuskini
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memanfaatkan momentum penurunan muka air di kawasan rawa lebak saat musim kemarau untuk menggenjot produksi padi demi mengejar target 4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2026.
Target tersebut dipatok lebih tinggi guna mendongkrak realisasi capaian dari periode tahun sebelumnya yang berada di posisi 3,69 juta ton.
“Target tahun 2026 harus lebih tinggi dari capaian tahun 2025 sebesar 3,69 juta ton. Artinya minimal kita harus mencapai 4 juta ton GKG atau membutuhkan tambahan sekitar 300 ribu ton GKG,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumsel, Bambang Pramono, Rabu (15/7/2026).
Bambang Pramono mengungkapkan bahwa volume produksi komoditas padi di wilayah Sumatera Selatan terpantau telah berhasil menyentuh angka 2,46 juta ton GKG hingga periode pertengahan tahun 2026 ini.
Pihaknya menjelaskan bahwa total bentangan luas lahan baku sawah yang tersebar di wilayah Sumatera Selatan saat ini tercatat berada di angka 519.482 hektare.
Dari total luasan tersebut, sekitar 73 persen di antaranya merupakan area lahan rawa, baik yang termasuk kategori rawa lebak maupun kawasan pasang surut.
Kondisi alam berupa lahan rawa yang mendominasi tersebut dinilai masih menyimpan potensi yang sangat besar untuk menggenjot produktivitas hasil panen padi lokal.
Saat memasuki periode musim kemarau, permukaan muka air di area kawasan rawa lebak dilaporkan akan mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Hal tersebut membuat lahan yang sebelumnya selalu tergenang air hingga sembilan bulan dalam setahun berbalik menjadi dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk kegiatan tanam.
Demi mendukung realisasi pencapaian target produksi, Pemprov Sumsel telah melayangkan usulan perbaikan infrastruktur pertanian sejak bulan April 2026 lalu.
Usulan berupa rehabilitasi saluran irigasi primer dan sekunder di kawasan pasang surut itu diajukan kepada Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Langkah pengajuan ini diambil lantaran jaringan saluran irigasi primer dan sekunder yang menjadi kewenangan penuh Kementerian PUPR sudah belasan hingga puluhan tahun belum pernah direhabilitasi.
Sementara itu, pelaksanaan perbaikan melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) pada 2019 hingga program optimalisasi lahan (Oplah) pada 2025 tercatat baru mencakup area saluran tersier.
Intervensi program di masa lalu itu diakui memang telah berhasil meningkatkan produktivitas lahan pasang surut dari sekitar 5 ton per hektare menjadi 5,6 hingga 6,5 ton per hektare.
Namun, lompatan produktivitas itu belum mampu diikuti oleh kenaikan indeks pertanaman akibat masalah sedimentasi dan pendangkalan pada saluran primer serta sekunder yang membatasi frekuensi tanam petani.
Di samping mendorong perbaikan infrastruktur air, pihak dinas terkait kini juga resmi meluncurkan program taktis Gerakan Tanam Menyongsong El Nino.
Langkah ini dirancang untuk memanfaatkan musim kemarau sesuai dengan hasil prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar lahan rawa lebak yang biasa tergenang dapat ditanami padi.
Pihak otoritas pertanian daerah menyatakan keyakinan penuh bahwa target pemenuhan ketahanan pangan di tahun ini akan sanggup direalisasikan secara maksimal.
“Kami optimistis target produksi 4 juta ton GKG pada 2026 dapat tercapai melalui dukungan berbagai program Kementerian Pertanian, seperti cetak sawah, bantuan alat dan mesin pertanian, brigade pangan, serta penyaluran pupuk bersubsidi yang kini dinilai semakin mudah diakses petani,” pungkasnya. (Tia)










