Mutu TBS Rendemen Sawit Tidak Hanya ditentukan oleh Pabrik

Palembang,Focuskini

Mutu tandan buah segar (TBS) dan potensi rendemen minyak sawit tidak hanya ditentukan di pabrik, tetapi dimulai dari kebun. Ketepatan menentukan matang panen, teknik memanen, penanganan TBS dan brondolan, hingga pengangkutan menjadi rangkaian penting untuk menjaga kualitas hasil.
Kesalahan pada tahapan tersebut dapat meningkatkan kehilangan hasil dan menurunkan mutu TBS, yang akhirnya berpengaruh terhadap nilai ekonomi pekebun. Hal ini menjadi perhatian dalam Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 bagi 111 pekebun Musi Rawas dan Muara Enim di Palembang pada 24–29 Agustus 2026.
Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Fandi Hidayat, P.Hd., mengatakan teknik panen dan pascapanen yang tepat diperlukan untuk menggali potensi produksi yang tersedia di kebun.

“Pelatihan ini merupakan bagian penting, terutama dalam hal kita menggali potensi produksi yang ada di lahan Bapak dan Ibu sekalian,” kata Fandi saat membuka kegiatan, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, produktivitas tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga kemampuan pekebun mengelola setiap tahapan produksi. Pekebun perlu memahami kriteria matang panen, teknik memanen, penanganan TBS dan brondolan, hingga pengangkutan agar hasil tanaman dapat dipertahankan hingga diterima pabrik.
Fandi juga mendorong peserta aktif berdiskusi dengan instruktur dan sesama pekebun agar memperoleh wawasan dari sisi hulu maupun hilir. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterapkan di kebun.
“Ilmu yang diperoleh pada kegiatan ini dapat diterapkan, diimplementasikan ketika nanti Bapak dan Ibu sudah kembali ke tempat masing-masing,” ujarnya.

Belajar Langsung dari Lapangan
Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan. Pada 27 Agustus 2026, peserta berkunjung ke PT Bina Sawit Makmur dan PT Minanga Ogan.
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung penerapan teknik panen dan pascapanen di lapangan. Peserta dapat menghubungkan materi yang diperoleh selama pelatihan dengan praktik pengelolaan panen, penanganan TBS dan brondolan, serta pengangkutan hasil.
Pengalaman lapangan ini diharapkan menjadi pembelajaran praktis bagi pekebun untuk menerapkan teknik yang tepat di kebun masing-masing, sehingga kualitas TBS dapat dipertahankan dan kehilangan hasil dapat ditekan.

Pengetahuan Harus Menyebar
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Herlan Kagami, mengatakan pelatihan diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas peserta, tetapi juga mendorong mereka menjadi penggerak di daerah masing-masing.
“Harapan kami adalah bapak ibu semua setelah mengikuti apa yang kita kerjakan selama beberapa hari ke depan nantinya akan memberi bekal kepada bapak ibu dan pada akhirnya bisa menulari kepada masyarakat di sekitar kita,” ujar Herlan.
Pelatihan diikuti 111 pekebun, terdiri atas 51 peserta dari Musi Rawas dan 60 peserta dari Muara Enim, dalam empat batch, yakni angkatan 4 dan 5 untuk Musi Rawas serta angkatan 10 dan 11 untuk Muara Enim.

Melalui pelatihan ini, pekebun diperkuat dalam praktik panen dan pascapanen agar mampu menekan kehilangan hasil dan menjaga mutu TBS. TBS yang dipanen pada tingkat kematangan tepat, ditangani dengan baik, dan segera diangkut memiliki peluang lebih besar mempertahankan kualitasnya.

Pelatihan diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), serta Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Rawas, dan Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim.

Maka, mutu TBS dan potensi rendemen bukan semata persoalan di tingkat pabrik. Kualitas bahan baku sudah ditentukan sejak buah dipanen dan ditangani di kebun.(kiki)