Palembang,Focuskini
Penguatan hilirisasi sektor pangan dan energi menjadi langkah strategis dalam mendorong ketahanan ekonomi daerah sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional. Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi besar untuk mengambil peran tersebut melalui optimalisasi sumber daya unggulan daerah.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersinergi bersama ISEI menginisiasi Policy Talks dalam rangka Road to 3rd Sriwijaya Economic Forum (SEF) 2026 pada Rabu (22/4/2026) di Universitas Sriwijaya dengan tema “Sinergi Hilirisasi untuk Ketahanan Pangan & Energi Sumatera Selatan.”
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha, akademisi, dan pengamat ekonomi. Dalam forum ini, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan memaparkan policy brief terkait perkembangan terkini ekonomi daerah, sekaligus mengangkat isu-isu strategis perekonomian Sumatera Selatan dan menghimpun berbagai gagasan serta rekomendasi kebijakan dari para pemangku kepentingan.
Acara dibuka oleh Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Palembang, Prof. Dr. Azwardi, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa sinergi hilirisasi pangan dan energi di Sumatera Selatan sejalan dengan prioritas nasional yang tertuang dalam delapan agenda pembangunan nasional (Asta Cita) Presiden Republik Indonesia. Menurutnya, Sumatera Selatan dinilai memiliki peluang besar untuk berkontribusi pada tingkat nasional melalui pengembangan hilirisasi berbasis keunggulan komparatif daerah yang berkelanjutan.
Mengawali sesi Policy Talks, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menyampaikan Policy Brief kondisi ekonomi Sumatera Selatan, perkembangan inflasi, serta prospek perekonomian ke depan. Ia menekankan bahwa Sumatera Selatan memiliki potensi besar di sektor batu bara dan kelapa sawit yang didukung oleh ketersediaan sumber daya dan cadangan yang melimpah. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan meningkatkan nilai tambah melalui produk turunan yang lebih kompetitif.
Sesi Policy Talks menghadirkan narasumber lintas sektor, yaitu Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Prof. Dr. Ir. A. Muslim, M.Agr (akademisi), Plt. Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Selatan Dody Eko Prasetyo, S.T., M.T. (pemerintah daerah), serta Investor Relations Department Head PT Bukit Asam Tbk. Aldy Pratama (dunia usaha). Para panelis menyampaikan perspektif strategis mengenai percepatan hilirisasi sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan.
Melalui penyelenggaraan Road to SEF 2026 ini, Bank Indonesia berharap dapat mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan strategi implementatif untuk memperkuat hilirisasi sektor pangan dan energi. Forum ini juga menjadi wadah untuk memperkuat sinergi dan awareness seluruh elemen di Sumatera Selatan akan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang bernilai tambah, dalam rangka menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan ekonomi daerah, serta mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Bank Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berpartisipasi menyumbangkan ide dan gagasan pengembangan perekonomian Sumatera Selatan melalui kompetisi penulisan applicative essay SEF 2026 yang dapat diikuti melalui link https://linktr.ee/Call_for_Applicative_Essay. Sebagai bentuk transparansi dan diseminasi informasi, seluruh informasi terkait penyelenggaraan SEF 2026 dapat diakses melalui kanal media sosial resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan.(soim)








