Palembang,Focuskini
Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Plaju berkomitmen memastikan petani rawa lebak di Desa Sungai Rebo tetap tangguh dan mandiri setelah Program Mina Padi memasuki tahap exit program pada 2026. Program pemberdayaan yang berfokus pada peningkatan ketahanan dan keberlanjutan usaha pertanian ini dijalankan sejak 2022, dan kini pendampingannya diserahkan secara bertahap kepada Balai Penyuluh Pertanian Banyuasin I.
Mina Padi memadukan budidaya padi dengan perikanan dan peternakan di lahan rawa. Program ini hadir agar petani lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim, seperti musim yang sulit ditebak, banjir, dan kekeringan, yang selama ini membuat padi di kawasan rawa lebak pasang surut hanya bisa ditanam sekali setahun.
Program mendampingi Kelompok Tani Jaya Bersama, Kelompok Tani Bina Tani Berkah, UMKM Andong Jaya, dan Kelompok Ternak Talang Bali melalui tiga strategi: menambah ragam usaha petani, menerapkan cara bertani yang ramah lingkungan dan rendah karbon, serta peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat dan infrastruktur pendukungnya terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian hidrologi.
Hasilnya, lahan kini bisa ditanami dua kali setahun, perolehan gabah naik dari 4 ton menjadi 7 ton per tahun, dan pemakaian pupuk kimia turun 20 persen. Petani juga punya sumber penghasilan baru, seperti telur asin Rp2,4 juta per bulan dan budidaya ikan Rp5,6 juta per enam bulan. Secara total, program menjangkau 116 penerima manfaat langsung.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU Plaju, Siti Fauzia, mengatakan bahwa capaian tersebut menjadi tanda petani Sungai Rebo telah siap melangkah mandiri.
“Kami bangga melihat petani kini punya lebih dari satu sumber penghasilan dan lahan yang lebih produktif. Inilah bekal yang kami harapkan membuat mereka tangguh menghadapi perubahan iklim,” ujar Fauzia.
Rasa percaya diri itu juga dirasakan petani. Ketua Kelompok Tani Bina Tani Berkah, Abdul Fatih, mengatakan perubahan iklim tidak bisa dihadapi dengan pasrah.
“Kita tidak bisa hanya pasrah diri menghadapi perubahan iklim. Atas dukungan Pertamina, kini kami dapat beradaptasi dan melakukan mitigasi sehingga produktivitas dan kesejahteraan kami meningkat,” kata Abdul.
Pada tahap exit program, Kilang Plaju menyerahkan pendampingan secara bertahap kepada Balai Penyuluh Pertanian Banyuasin I, sekaligus mereplikasi model Mina Padi ke Dusun IV Talang Bali.
“Exit program bukan berarti kami meninggalkan masyarakat, melainkan tanda bahwa petani sudah siap berdiri sendiri. Pendampingan kini dilanjutkan oleh Balai Penyuluh Pertanian, dan pengalaman di Sungai Rebo kami bawa ke Dusun IV Talang Bali agar lebih banyak petani merasakan manfaatnya,” ujar Fauzia.
Melalui Mina Padi, Kilang Plaju berharap petani Sungai Rebo mampu melanjutkan usaha secara mandiri dan terus mengembangkan pertanian yang adaptif di kawasan rawa lebak. Pertamina juga berkomitmen memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasi.












