Seleksi SPMB Makin Ketat, TKA Jadi Modal Strategis Siswa

Palembang,Focuskini

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang digelar serentak secara nasional, Senin (4/6/2026), menjadi penanda perubahan arah seleksi pendidikan, termasuk di Kota Palembang untuk jenjang SMP. Hasil ujian ini tak lagi sekadar angka, melainkan mulai diperhitungkan sebagai “modal akademik” dalam perebutan kursi jalur prestasi pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Pemerintah menempatkan nilai TKA sebagai instrumen pendukung bukan pengganti Ujian Nasional yang berfungsi mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa secara lebih objektif. Sertifikat TKA pun kini memiliki daya tawar lebih, menjadi nilai tambah yang dapat memperkuat posisi siswa dalam proses seleksi.

Namun, implementasinya tidak sepenuhnya seragam. Kebijakan penggunaan nilai TKA diserahkan pada masing-masing pemerintah daerah, sehingga membuka potensi perbedaan dalam penilaian di tiap wilayah. Di tengah situasi itu, TKA hadir sebagai indikator baru seleksi berbasis kompetensi mulai menggantikan pendekatan administratif semata.

Kepala SMP Negeri 30 Palembang, Kamila Delima, S.Pd, M.Si. mengungkapkan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 di SMP Negeri 30 Palembang berlangsung maraton. Selama delapan hari, hingga 16 April, ratusan siswa mengikuti ujian secara bergantian dengan keterbatasan ruang, namun tetap dalam pengawasan ketat sekolah. Di tengah segala keterbatasan, TKA justru menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan akademik siswa menghadapi persaingan masuk jenjang berikutnya.

Sebanyak 316 siswa terlibat dalam pelaksanaan TKA tahun ini. Karena hanya tersedia satu ruang ujian, pelaksanaan dilakukan secara bergiliran. “Kami atur jadwal secara bergantian agar semua siswa tetap bisa mengikuti ujian dengan tertib dan sesuai prosedur,” ujarnya.

Materi yang diujikan difokuskan pada dua kompetensi utama, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika. Kedua mata pelajaran ini dinilai menjadi fondasi penting dalam mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa, sekaligus menjadi indikator utama dalam pemetaan capaian belajar.

Menurut Kamila, kehadiran TKA membawa dampak positif bagi siswa. Selain mengasah kemampuan melalui soal berstandar nasional, hasil ujian ini juga memiliki nilai strategis karena dapat digunakan sebagai salah satu syarat dalam jalur prestasi pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). “Ini bukan sekadar ujian, tetapi juga kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kualitas akademiknya,” katanya.

Untuk memaksimalkan hasil, sekolah telah menyiapkan berbagai langkah pendukung. Siswa kelas IX mendapatkan pembelajaran tambahan berupa les intensif dan latihan soal, khususnya untuk mata pelajaran yang diujikan. Program ini dilaksanakan setelah jam pelajaran reguler, saat siswa kelas VII dan VIII telah pulang, sehingga fokus pembinaan bisa lebih maksimal.

Di akhir, Kamila mengingatkan para siswa agar tidak terburu-buru dalam mengerjakan soal. Ketelitian, menurutnya, menjadi kunci penting dalam menghadapi ujian berbasis kompetensi seperti TKA. “Jangan tergesa-gesa. Setelah selesai, pastikan diperiksa kembali sebelum dikumpulkan.

“Dengan pola pelaksanaan yang terukur dan dukungan sekolah, TKA di SMP Negeri 30 Palembang bukan hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga cermin kesiapan siswa menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompetitif,” tutupnya. (hasan)