Simulasi Makan Bergizi Gratis Akan Dilakukan Bergilir ke Sekolah di 18 Kecamatan

Palembang, Focuskini

Pemerintah Kota Palembang menyebut semulasi makan bergizi gratis akan dilakukan bergilir ke sekolah yang dipilih di 18 kecamatan yang ada.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang Adrianus Amri mengatakan simulasi akan dilakukan hingga 2025, yang mana simulasi itu akan dilakukan per kecamatan.

“Kita akan melakukan simulasi secara bergantian ke sekolah-sekolah yang ada di 18 kecamatan di Palembang, jadi tiap kecamatan ada satu sekolah yang dipilih. Simulasi ini hanya berlangsung 1 hari saja dan akan bergantian dilakukan sampai awal tahun 2025,” kata Amri usai simulasi makan bergizi gratis di SMP N 10 Palembang pada, Kamis (21/11/2024).

Amri mengungkapkan untuk anggaran satu porsi makanan bergizi gratis yang diberikan Pemkot yakni Rp15 ribu. Meski begitu kandungan gizi pada makanan itu dipastikan tercukupi, karena pihaknya juga menggandeng ahli gizi.

“Untuk satu porsi makanan anggarannya Rp15 ribu, tentunya pemenuhan gizinya semua tercukupi baik dari segi nutrisi, vitamin, protein, susu, dan lain sebagainya. Anggaran ini sendiri dari disdik yang bekerjasama dengan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Palembang. Kita akan bekerjasama dengan UMKM, Dinkes, perijinan terpadu satu pintu, yang mungkin akan dibagi per wilayah untuk memperudah distribusi makanan serta ketahanan makanan itu,” ungkapnya.

Ia menyampaikan simulasi itu hanya diberikan untuk tiga kelas, yang mana hal itu sekaligus untuk evaluasi kedepan.

“Tadi hanya tiga kelas yang diberi makan gratis yaitu kelas VII (1 kelas), kelas VIII (1 kelas), dan kelas IX (1 kelas). Tentu dari simulasi ini kita akan melakukan evaluasi lagi apa yang kurang dan perlu ditambahkkan kedepannya, kami sudah bisa memitigasi resikonya,” imbuhnya.

Selain itu, untuk penerapan kedepan pihaknya masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, saat ini mulai mempersiapkan tiap sekolah agar program tersebut dapat berjalan dengan lancar.

“Sekolah disini kan ada yang masuk sampai sabtu dan ada juga yang tidak full day (sampai jum’at). Lalu ada juga sekolah yang masuk siang, nah kita belum tahu mereka ini dapat juga atau tidak. Kemudian seperti anak SD kelas 1 & 2 pulang jam 10, kita juga belum tahu apa mereka dapat di jam 9 atau seperti apa,” ucap dia. (Tia)