Palembang, Focuskini
Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) terus diperkuat dan diarahkan untuk naik kelas dari gerakan penguatan produksi pangan menjadi ekosistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Setelah diluncurkan pada Juli 2026, penguatan GSMP kembali dibahas melalui kegiatan Ngopi Bareng GSMP: Tata Kelola Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan yang Kolaboratif, Efektif, dan Berkelanjutan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Senin (14/9).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan H. Edward Candra, serta pimpinan instansi vertikal, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perbankan, BUMN, BUMD, dan berbagai pemangku kepentingan terkait. Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola sekaligus memfinalisasi arah pelaksanaan GSMP 2026, dengan fokus antara lain pada pemberdayaan pesantren sebagai bagian dari produsen pangan dan integrasi produksi pangan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wakil Gubernur Sumatera Selatan menyampaikan bahwa GSMP merupakan gerakan bersama untuk membangun masyarakat Sumatera Selatan yang semakin mandiri dalam pangan, produktif, dan pada akhirnya semakin sejahtera. Menurutnya, GSMP perlu terus didorong untuk naik kelas dengan membangun ekosistem yang lebih besar, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh masyarakat. “GSMP bukan hanya sebuah program, tetapi merupakan gerakan bersama. Ke depan, kita harus membangun ekosistem yang lebih besar agar masyarakat Sumatera Selatan semakin mandiri dalam pangan, semakin produktif, dan semakin sejahtera,” ujar H. Cik Ujang.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan menegaskan bahwa penguatan GSMP tidak semata-mata dilakukan melalui penambahan bantuan, tetapi terutama dengan memperkuat sistem dan ekosistem yang menopang keberlanjutan program. Untuk itu, terdapat empat langkah utama yang menjadi perhatian, yaitu memperkuat tata kelola, memperkuat pendampingan melalui PANDU-GSMP, memperkuat kemitraan melalui SINERGI GSMP, serta memperkuat data sasaran. “Hal yang paling menentukan keberlanjutan GSMP adalah hilirisasi dan pasar. Rantai GSMP harus kita bangun secara utuh, mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar. Dengan demikian, hasil produksi masyarakat tidak berhenti di tingkat produksi, tetapi memiliki kepastian untuk terserap dan memberikan nilai tambah,” jelas H. Edward Candra.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono menyampaikan bahwa GSMP yang digagas oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru pada awalnya berangkat dari semangat untuk mengubah pola pikir masyarakat dari konsumen menjadi produsen. Dalam perkembangannya, GSMP terus bertransformasi menjadi inovasi pengembangan ekosistem rantai pasok pangan yang lebih menyeluruh, terintegrasi, dan sistematis. Penguatan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi dan kemandirian pangan masyarakat, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi, implementasi PSN-MBG, digitalisasi sistem pembayaran dan akses keuangan, pertumbuhan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan.
“GSMP saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana meningkatkan produksi. Kita perlu memastikan seluruh rantai ekosistemnya berjalan, mulai dari pembiayaan, pendampingan, produksi, digitalisasi, hilirisasi hingga akses pasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu memproduksi pangan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil produksinya,” ujar Bambang Pramono.
Dalam pelaksanaan GSMP 2026, penguatan GSMP Goes to Pesantren menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong pesantren sebagai bagian dari ekosistem produsen pangan. Dengan potensi sumber daya manusia dan lahan yang dimiliki, pesantren diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan pasokan pangan di daerah. Melalui dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, pelatihan, serta pendampingan, pesantren tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, tetapi juga menghasilkan komoditas yang dapat dipasok kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan offtaker lainnya sesuai dengan potensi produksinya.
Pengembangan GSMP Goes to Pesantren juga menjadi bentuk dukungan terhadap implementasi Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (PSN-MBG) melalui penguatan rantai pasok pangan di sekitar SPPG. Peningkatan produksi pesantren diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan, mendukung pengendalian inflasi dari sisi pasokan, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pada saat yang sama, penerapan digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan akses keuangan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah akses pembiayaan, dan memperkuat pengelolaan usaha pesantren.
Dari sisi hulu, ekosistem GSMP diperkuat melalui dukungan pembiayaan dari berbagai pihak, antara lain perbankan, Danantara, Baznas, dan lembaga terkait lainnya. Para produsen juga memperoleh pendampingan teknis untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas digital, serta meningkatkan akses terhadap layanan keuangan. Sementara itu, dari sisi hilir, penguatan dilakukan melalui business matching dengan SPPG dan offtaker lainnya guna memastikan hasil produksi terserap dengan harga yang wajar. Rangkaian proses tersebut diharapkan dapat membangun rantai pasok pangan yang lebih kuat, menciptakan nilai tambah, menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar SPPG, dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.
Sebagai bagian dari penguatan tata kelola, turut dikukuhkan Forum Kemitraan SINERGI GSMP dan Tim Pendampingan Terpadu GSMP (PANDU-GSMP). Forum Kemitraan SINERGI GSMP berperan dalam mempertemukan sumber daya dan potensi berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, pemerintah, hingga masyarakat, untuk mendukung pembiayaan, inovasi, produksi, dan akses pasar. Sementara itu, PANDU-GSMP diharapkan memastikan masyarakat pelaksana GSMP memperoleh pendampingan yang nyata, terarah, dan berkelanjutan.
Melalui penguatan tersebut, GSMP 2026 diharapkan mampu membangun ekosistem pangan yang terintegrasi dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pasar. Inisiatif ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap implementasi PSN-MBG, pengendalian inflasi, penguatan ketahanan pangan, digitalisasi sistem pembayaran, perluasan akses keuangan, serta peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan.
GSMP 2026 menjadi wujud nyata sinergi berbagai pihak dalam mendorong masyarakat Sumatera Selatan menjadi produsen pangan yang mandiri, produktif, dan terhubung dengan pasar, sekaligus memperkuat pengendalian inflasi melalui peningkatan kapasitas pasokan pangan. Melalui penguatan tata kelola, pendampingan, pembiayaan, produksi, hilirisasi, dan akses pasar secara terintegrasi, GSMP diharapkan mampu membangun ekosistem pangan lokal yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan.
Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan TPID Sumatera Selatan dapat diakses melalui kanal media sosial resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan di @bank_indonesia_sumsel.(soim)














