Palembang,Focuskini
Ribuan siswa SD dan SMP di Palembang mengikuti simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar Pemerintah Kota Palembang, 29 Januari hingga 4 Februari 2026. Uji coba berbasis komputer ini menjadi penanda keseriusan pemerintah membenahi sistem evaluasi pendidikan agar lebih objektif dan berorientasi pada mutu.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Palembang, Isnaini Madani, menegaskan bahwa simulasi ini menjadi ruang belajar penting bagi siswa sebelum menghadapi pelaksanaan TKA yang sesungguhnya.
“Melalui simulasi ini, siswa dapat mengukur kemampuan akademiknya sekaligus memahami mekanisme tes berbasis komputer. Ini bagian dari persiapan mental dan akademik,” ujarnya.
Pelaksanaan simulasi dilakukan secara bertahap selama sepekan, dengan materi ujian yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing siswa. Pemerintah kota memastikan kesiapan infrastruktur dan dukungan teknis agar pelaksanaan berjalan tertib dan lancar.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Palembang, H Dr Ahmad Zulinto, menilai TKA memiliki makna strategis dalam sistem pendidikan. Menurut dia, TKA tidak boleh dipahami semata sebagai alat seleksi, melainkan sebagai instrumen pemetaan kemampuan akademik dasar peserta didik secara objektif dan terukur
“Tes ini dirancang untuk mengukur literasi, numerasi, dan kemampuan bernalar siswa. Dari pelaksanaan simulasi, kami melihat hasil yang cukup menggembirakan,” katanya.
Ia menekankan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan kesiapan siswa. Karena itu, ia mendorong sekolah untuk terus mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas, bukan semata mengejar capaian nilai.
“Kami ingin membangun sistem pendidikan yang adil dan transparan. TKA adalah salah satu instrumen untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama berdasarkan kemampuan akademiknya,” ujarnya.
Zulinto juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma pendidikan. Guru dan sekolah, menurut dia, perlu lebih fokus pada penguatan pemahaman konsep, pembentukan karakter, serta pengembangan daya pikir kritis siswa sejak jenjang dasar.
“Tantangan pendidikan ke depan semakin kompleks. Keberhasilan simulasi TKA ini harus menjadi momentum bagi sekolah untuk terus berbenah dan meningkatkan mutu pembelajaran,” tutupnya.(Hasan Basri)








