Palembang,Focuskini
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penurunan kualitas udara yang terjadi signifikan pada malam hingga dini hari.
Kondisi ini dipicu oleh terhentinya proses fotosintesis vegetasi yang berpadu dengan akumulasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Fenomena penumpukan polutan ini bertepatan dengan masuknya puncak musim kemarau di Sumatera Selatan yang diprediksi berlangsung hingga September 2026.
“Nilai kualitas udara biasanya akan menurun pada malam hari, terutama dini hari. Karena proses fotosintesis berhenti ketika matahari terbenam. Pada malam hari tumbuhan mengeluarkan karbon, kemudian bercampur dengan polutan dari kendaraan maupun asap lainnya sehingga konsentrasi pencemar udara menjadi lebih tinggi,” ujar Koordinator Pokja Analisis, Diseminasi, Informasi, dan Edukasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, Kamis (6/8/2026).
Ancaman kualitas udara malam hari semakin diperberat oleh pergerakan asap karhutla. Hasil pemantauan citra satelit BMKG mengonfirmasi adanya sebaran asap dari area lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, dan Banyuasin.
BMKG mengimbau publik untuk mulai membiasakan diri menggunakan masker saat berada di luar ruangan. Terlebih, fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan melingkupi wilayah Sumsel hingga awal tahun 2027.
“Bila terasa kualitas udara sudah tidak nyaman di hidung maupun tenggorokan, hendaknya menggunakan masker. Kami juga menghimbau masyarakat untuk membantu pemerintah dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung,” lanjut Nandang.
Sebagai langkah mitigasi penumpukan asap, BMKG berkolaborasi dengan BPBD, BNPB, dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup memusatkan kekuatan pada Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian awan terus ditingkatkan untuk memicu hujan di area rawan hotspot.
Langkah OMC ini berjalan paralel dengan penanggulangan Satgas Darat dan Udara untuk memadamkan titik api di kabupaten rawan sebelum asap tebal terbawa angin menuju wilayah perkotaan Palembang.
“Kami dari BMKG bersama BPBD, BNPB, Kehutanan dan Lingkungan Hidup melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara maksimal agar dapat membantu menekan kebakaran hutan dan lahan di kabupaten-kabupaten yang rawan karhutla tersebut,” pungkasnya. (Tia)









