Palembang,Focuskini
Aroma kuah soto kuning yang “nendang” dan daging yang empuk menjadi ciri khas Soto Abah Opan, kuliner legendaris di Palembang. Di balik kelezatan semangkuk soto yang selalu ramai pembeli itu, ada rahasia baru yang membuat operasional warung semakin efisien, beralih menggunakan Gas Bumi dari Jaringan Gas (Jargas) PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Jika dulu pemilik harus repot angkat-angkat tabung gas dan was-was kehabisan gas di jam ramai, kini kekhawatiran itu hilang. Sejak terhubung dengan Jargas PGN, kompor di dapur Soto Abah Opan menyala 24 jam non-stop, mengalir terus tanpa putus.
Seperti yang diutarakan Manajer Soto Abah Opan, Rosida (45) menggunakan gas bumi dari PGN sejak tahun 2013. Alasan utama beralih dari gas tabung ke gas bumi PGN karena jauh lebih hemat, sewaktu menggunakan gas tabung 12 Kg harganya fluktuatif sementara gas bumi PGN dihitung pakai meter jadi lebih hemat dibandingkan menggunakan LPG. Gas bumi tidak pernah habis dan tidak perlu angkat tabung gas.
“Gas Bumi mengalir 24 jam non-stop lewat pipa bawah tanah.Tidak ada drama gas habis tengah malam saat masak, tidak perlu telepon agen, tidak perlu angkat tabung berat ke kompor,”ujarnya.
Alasan lain dikatakannya, jauh lebih aman. Tekanan gas bumi PGN jauh lebih rendah dibanding tabung LPG yang bertekanan tinggi.Gas bumi lebih ringan dari udara, kalau bocor langsung menguap ke atas, tidak mengendap di bawah seperti LPG yang bisa meledak.Dilengkapi safety valve dan jaringan dipantau 24 jam oleh PGN.

Gas Bumi dikatakannya, juga praktis dan modern karena pembayaran bisa dilakukan via aplikasi PGN Mobile maupun e-wallet. “Ada meter yang jelas, jadi pakainya terukur. Dapur lebih rapi, tidak ada tabung yang makan tempat dan bikin karat,”ujar ibu tiga anak ini sembari menambahkan alasan lain emisi gas bumi paling bersih dibanding LPG dan minyak. Tidak ada asap hitam, tidak bikin jelaga di wajan ataupun panci.
Untuk proses pemasangan Jargas PGN di Warung Soto Abah Opan dijelaskannya, tahap pertama melakukan cek jaringan dan pendaftaran memakan Waktu satu hari. Memastikan lokasi warung sudah terlewati pipa Jargas. Kemudian melakukan pendaftaran langsung datang ke kantor PGN Palembang. Selanjutnya melengkapi syarat dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran setelah itu dilakukan survey lokasi.
Setelah itu dijelaskannya, petugas PGN dating ke warung untuk mengukur jarak pipa induk ke kompor, menentukan titik meter gas dan jalur pipa di dalam warung. Kemudian memberikan penjelasan anggaran biaya awal. Tahap selanjutnya melakukan pembayaran biaya pasang sudah termasuk meter gas, regulator, selang standar SNI dan pipa instalasi dalam rumah.
“Tahap selanjutnya instalasi dan penyalaan api. Ini yang paling ditunggu, teknisi datang pasang pipa hitam dari depan warung sampai ke dapur.Pasang kompor konversi, uji kebocoran pakai alat detektor. Penyalaan api pertama, dimana petugas menyalakan kompor, kasih edukasi cara pakai, cara baca meter dan cara lapor kalau bau gas,”ujarnya sembari mengatakan tahapan terakhir tinggal pakai dan melakukan pembayaran tagihan setiap bulan.
Perbedaan paling terasa setelah menggunakan gas bumi dijelaskannya, untuk biaya bulanan dibayar sesuai dengan pemakaian bisa menghemat biaya 30 %-40 % sedangkan kalau pakai LPG harus mencari bisa terjadi kelangkaan. Api tidak pernah mati karena jargas mengalir 24 jam. Jam berapa pun masak gas tetep menyala, tidak ada istilah gas habis, sedangkan pakai LPG harus angkat tabung, pasang regulator dan kadang ngeses. Gas PGN ringan, kalau bocor langsung hilang ke atas. Ada safety valve otomatis. Dapur jadi lega tanpa tabung. Sedangkan pakai LPG, tabung di dalam dapur panas dekat kompor.

“Kalau ada bocor, gas LPG berat, mengendap di bawah, bahaya meledak dan regulator sering bunyi. Pakai gas PGN, tidak angkat apa-apa selamanya, tinggal putar knop kompor saja. Sementara pakai LPG, karyawan harus angkat tabung berat ke motor, bolak-balik ke pangkalan. Untuk kualitas api dari PGN, api biru stabil dari awal sampai akhir bulan. Panas sama terus. Kuah soto lebih cepat mendidih, irit waktu. Sementara bila pakai tabung gas, awal tabung penuh api besar, pas mau habis api kecil, kuah lama mendidih,”ujarnya
Untuk penghematan biaya dikatakannya, bisa lebih hemat 30-40 % dibanding menggunakan LPG. Biaya penghematan tersebut bisa digunakan untuk biaya operasional lainnya seperti untuk membayar listrik, air hingga membayar gaji karyawan.
Untuk pelayanan yang diberikan PGN Palembang kalau ada gangguan dikatakannya, paling cepat merespon semua perbaikan gratis. Pengecekan rutin tanpa diminta, mereka datang tiap 3-6 bulan sekali ke Soto Abah Opan.
Ia berpesan untuk pelaku kuliner di Palembang yang masih memakai tabung gas dan masih angkat-angkat tabung berat segera beralih ke gas bumi PGN. “Jangan ditunda-tunda lagi. Daftarlah gas PGN, ini bukan soal gaya-gayaan. Ini soal ketenangan dan untung. Kita sudah capek mikir resep, mikir pembeli. Jangan ditambah capek mikir gas habis,”ungkapnya.

Sementara itu salah satu juru masak Soto Abah Opan mengatakan Devi (30) mengatakan, untuk kualitas rasa atau kematangan kuah soto dari gas alam lebih stabil. Kuah soto lebih “medok” karena api tidak naik-turun. Untuk ayam dan daging tidak bau gas dan tidak gosong.
“Ya, kualitas rasa kuah soto naik, bukan karena gasnya memberi rasa, tapi karena kestabilan api PGN membuat proses kematangan kaldu dan santan jadi sempurna seperti resep aslinya,”tuturnya.
Semenjak pasang gas PGN dikatakannya, tidak ada kata “gas habis” gas tetap mengalir. Tidak ada lagi karyawan panik angkat tabung. Kompor tinggal putar, gas tidak pernah habis karena PGN bukan tabung, tapi pipa, langsung dari pusat. Dari segi keamanan, kalau ada bau gas, tinggal tutup kran depan meter, buka jendela, telpon 135 (Call Center PGN). Petugas datang kurang dari 1 jam, gratis. Tidak perlu panggil tukang.
“Kalau ditanya pernah kehabisan gas lagi, tentu saja tidak karena gas PGN seperti napas, ada terus. Kalau soal aman, jauh lebih aman dan tidak takut bocor karena karena gasnya dijaga system. Di dapur sekarang jauh lebih enak, Kalau pakai tabung dulu, tengah-tengah masak gas habis, repot. Sekarang pakai gas bumi, api biru terus, besar kecilnyo biso diatur. Kami di dapur dididik jadi profesional, masak jadi lebih cepat dan aman. Dak ado lagi drama angkat tabung,”tuturnya.
Sedangkan salah satu pelanggan Soto Abah Opan, Zainab (45), yang sudah berlangganan sejak 2018 mengungkapkan, rasa Soto Abah Opan tidak pernah berubah. “Rasonyo makin lemak, Kuah Soto Abah Opan sekarang lebih gurih dan panasnyo merato. Katonyo sejak pakai gas bumi, masaknyo lebih stabil. Jadi kito sebagai pelanggan juga ngeraso bedanyo, anget terus, sedep,”ungkapnya.
Sementara itu Area Head PGN Palembang, Braman Setyoko mengatakan, saat ini jumlah pelanggan rumah tangga di Area Palembang sebanyak 50.140 SR, sedangkan untuk UMKM atau pelanggan kecil sebanyak 198 SR. Pelanggan Komersial Industri 119 SR dengan total 50.457 SR 2.

Dikatakannya, PGN Area Palembang memilih Soto Abah Opan sebagai UMKM kuliner legendaris Palembang menjadi contoh pengguna jargas karena merupakan salah satu usaha kuliner yang dikenal masyarakat Palembang dan menjadi contoh bagaimana pemanfaatan gas alam PGN dapat mendukung operasional UMKM. Melalui penggunaan gas alam, PGN ingin menunjukkan bahwa jargas tidak hanya memberikan manfaat bagi rumah tangga, tetapi juga dapat menjadi solusi energi yang andal bagi pelaku usaha, khususnya sektor kuliner.
“Kami melihat bahwa penggunaan gas alam dapat membantu pelaku UMKM menjalankan kegiatan usaha dengan lebih praktis, aman, dan efisien. Pengalaman positif Soto Abah Opan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk mulai memanfaatkan gas alam PGN sebagai salah satu solusi energi dalam mendukung keberlangsungan dan pengembangan usaha mereka,”harapnya.
Program Jargas PGN dijelaskannya, mendukung transisi energi, pengembangan UMKM dan ketahanan energi nasional. Dari sisi transisi energi, gas alam dapat menjadi salah satu energi transisi yang mendukung pemanfaatan energi yang lebih efisien. Dari sisi pengembangan UMKM, penggunaan gas alam membantu pelaku usaha menjalankan operasional secara lebih praktis dan efisien sehingga dapat mendukung produktivitas serta daya saing usaha. Sementara itu, dari sisi ketahanan energi, pemanfaatan gas bumi melalui jaringan pipa memberikan alternatif pasokan energi yang dapat diakses secara berkelanjutan sesuai dengan kondisi dan keandalan sistem penyaluran.
“PGN tidak hanya menghadirkan layanan energi bagi pelanggan, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan pertumbuhan usaha local,”ujarnya.
Keunggulan gas alam PGN bagi pelaku usaha kuliner seperti Soto Abah Opan dibanding LPG dijelaskannya, dirasakan oleh pelaku usaha kuliner seperti Soto Abah Opan adalah kemudahan penggunaan, efisiensi biaya, serta kenyamanan dalam menjalankan operasional sehari-hari. Dari sisi operasional, pelanggan tidak perlu repot mencari atau mengganti tabung LPG ketika gas habis karena gas alam disalurkan melalui jaringan pipa. Hal ini tentu membantu menjaga kelancaran aktivitas memasak, terutama bagi usaha kuliner yang membutuhkan pasokan gas secara rutin.
Dari sisi efisiensi, berdasarkan pengalaman yang disampaikan oleh Soto Abah Opan, penggunaan gas alam PGN dirasakan dapat menghemat biaya energi sekitar 30–40%. Angka tersebut merupakan pengalaman pelanggan dan dapat berbeda pada setiap usaha, bergantung pada pola pemakaian serta kebutuhan energinya. Selain itu, pelanggan juga merasakan manfaat dari aspek keselamatan melalui penggunaan perangkat pengaman seperti valve, serta kemudahan memperoleh bantuan karena tersedia PIC PGN yang dapat dihubungi ketika dibutuhkan, dengan respons yang cepat. Kombinasi kemudahan, efisiensi, dukungan layanan, dan penggunaan perangkat keselamatan yang sesuai menjadikan gas alam PGN sebagai salah satu pilihan energi yang mendukung kelancaran usaha kuliner.
PGN dikatakannya, menjamin pasokan tetap aman dan tidak putus, terutama saat hari besar, ramadhan dimana usaha kuliner meningkat drastis. PGN juga berkomitmen menjaga keandalan dan keamanan penyaluran gas bumi kepada seluruh pelanggan, termasuk pelaku UMKM kuliner yang membutuhkan pasokan energi untuk mendukung operasional sehari-hari, terutama saat Rramadan dan hari besar keagamaan ketika aktivitas usaha cenderung meningkat.
Untuk menjaga keandalan tersebut dikatakannya, PGN melakukan pemantauan kondisi penyaluran dan tekanan gas, pemeriksaan serta patroli jaringan secara berkala dan koordinasi dengan pemasok gas untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan kebutuhan pelanggan. PGN juga menyiagakan Tim Penanganan Gangguan selama 24 jam agar potensi gangguan dapat ditangani secara cepat dan terkoordinasi.
“Bagi kami, keandalan pasokan bukan hanya tentang menyalurkan gas, tetapi juga memberikan ketenangan bagi pelanggan agar dapat menjalankan usahanya dengan baik. Kami juga menyediakan saluran komunikasi yang dapat dihubungi pelanggan apabila membutuhkan informasi atau bantuan. Melalui langkah-langkah tersebut, PGN terus berupaya menjaga penyaluran gas bumi tetap aman dan andal. Meski demikian, kami tidak dapat menjanjikan bahwa gangguan tidak akan pernah terjadi, tetapi kami berkomitmen melakukan upaya pencegahan dan penanganan sebaik mungkin agar layanan kepada pelanggan tetap terjaga,”tuturnya.
Untuk target PGN Sumbagsel dalam penambahan pelanggan UMKM kuliner di Palembang tahun ini ditambahkannya, terus berupaya memperluas pemanfaatan gas bumi bagi sektor komersial, termasuk UMKM kuliner di Kota Palembang.
“Kami melihat sektor kuliner memiliki potensi yang baik untuk memanfaatkan gas bumi sebagai solusi energi yang praktis dan efisien dalam mendukung kegiatan operasional usaha,”ujarnya.
Untuk target penambahan pelanggan pada tahun 2026 dikatakannya, saat ini masih dalam tahap pertimbangan melihat terlebih dahulu potensi kebutuhan gas serta ketersediaan jaringan dan infrastruktur di masing-masing wilayah.
“Kami berharap semakin banyak UMKM kuliner di Palembang yang dapat memanfaatkan gas bumi PGN sehingga memperoleh manfaat dari sisi kemudahan operasional, efisiensi biaya, dan dukungan layanan pelanggan,”ujarnya.
Ia berharap PGN terhadap berharap kolaborasi dengan Soto Abah Opan dapat terus terjalin dengan baik dan menjadi contoh positif bagi UMKM lainnya di Palembang dalam memanfaatkan gas alam sebagai solusi energi untuk mendukung kegiatan usaha.
“Kami berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mengenal manfaat gas alam PGN, baik dari sisi kemudahan operasional, efisiensi biaya, maupun dukungan layanan kepada pelanggan. Dengan begitu, pemanfaatan gas bumi dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,”jelasnya.
Ke depan ditambahkannya, PGN berkomitmen untuk terus menjaga kualitas layanan, meningkatkan keandalan penyaluran gas sesuai dengan kondisi operasional, serta memperkuat hubungan dengan pelanggan.
“Kami ingin menjadi mitra energi yang dapat diandalkan oleh pelaku UMKM, sehingga mereka dapat lebih fokus mengembangkan usaha, menjaga kualitas produk, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,”tegasnya. (soim)












