Palembang,Focuskini
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) setelah api terpantau muncul di dua wilayah, yakni Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ilir (OKI).
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ferdian Kristanto mengatakan, titik api di kawasan Sungai Rotan, Muara Enim, menyebabkan kebakaran seluas enam hektare.
Dari luas tersebut, sekitar 0,3 hektare telah berhasil dipadamkan tim Manggala Agni.
“Jenis vegetasi yang terbakar berupa kebun karet bercampur semak belukar, dengan kondisi tanah gambut sedalam 0,2 meter. Lahan tersebut berstatus Area Penggunaan Lain (APL),” ujar Ferdian, Selasa (28/10/2025).
Ia mengatakan hingga kini petugas gabungan masih berupaya melakukan pemadaman lanjutan karena sejumlah titik api belum sepenuhnya padam.
Di sisi lain, tim juga dikerahkan ke Kabupaten OKI untuk menanggulangi kebakaran yang berada di area sulit dijangkau.
“Lokasi di OKI sedang dalam peninjauan. Akses menuju titik api cukup terbatas sehingga upaya pemadaman membutuhkan waktu,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman menyebut ada tujuh kabupaten di Sumsel masuk dalam zona rawan karhutla.
Tiga daerah dengan kejadian terbanyak yakni Ogan Ilir (134 kejadian), Musi Banyuasin (132 kejadian), dan OKI (124 kejadian).
Empat kabupaten lainnya juga berada di kategori tinggi, yaitu Banyuasin (91 kejadian), Muara Enim (69 kejadian), Penukal Abab Lematang Ilir (59 kejadian), dan Musi Rawas (41 kejadian).
“Daerah-daerah tersebut menjadi perhatian karena penyebaran api bisa sangat cepat akibat kondisi cuaca dan lahan yang kering,” imbuhnya.
Ia menungkapkan BPBD bersama aparat terkait terus melakukan patroli darat, memantau titik panas (hotspot), serta menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat dan perusahaan agar tidak melakukan pembakaran lahan.
“Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan perkebunan, semak belukar, dan lahan tidur,” ungkapnya.
Pemerintah Provinsi Sumsel mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi kebakaran di masa peralihan musim hujan ke kemarau, mengingat sejumlah daerah masih berstatus siaga karhutla. (Tia)














