Palembang,Focuskini
Dari pantauan di lokasi, suasana haru terasa kental di sepanjang Jalan Tasik (Kambang iwak),Cipto hingga sepanjang Jalan Merdeka menuju Masjid Agung dipenuhi deretan karangan bunga di tepi kiri dan kanan jalan, memanjang hingga atas wafatnya mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin.
Deretan papan bunga itu bukan sekadar hiasan, melainkan penanda betapa kabar kepergian tersebut meninggalkan kesedihan yang luas.
Warna-warni bunga krisan, mawar, dan anggrek tersusun dalam rangkaian kalimat doa yang sederhana namun menyentuh.
“Turut berduka cita,” “Semoga husnul khatimah,” hingga “Terima kasih atas pengabdianmu,” terbaca berulang di berbagai papan. Nama-nama pengirim datang dari beragam latar belakang tokoh nasional, pejabat daerah, pimpinan lembaga, pengusaha, hingga komunitas masyarakat mencerminkan luasnya relasi dan pengaruh yang pernah dibangun almarhum selama kiprahnya di panggung politik Sumatera Selatan.
Sebagian datang bersama keluarga, sebagian lagi hadir sendiri dengan langkah perlahan. Dari pantauan, beberapa pelayat tampak terdiam cukup lama di depan karangan bunga sebelum memasuki rumah duka, seakan menata perasaan sebelum memberi penghormatan terakhir. Tak sedikit yang keluar dengan mata sembab, menyalami keluarga dengan pelukan singkat namun penuh makna.
Lalu lintas di Jalan Merdeka bergerak lebih lambat dari biasanya. Aparat keamanan berjaga mengatur arus kendaraan yang melintas, sementara sejumlah warga memilih menepi untuk sekadar membaca pesan-pesan duka yang terpasang. Kota yang biasanya riuh itu seolah menahan suara; klakson jarang terdengar, percakapan pun berlangsung pelan.
Di dalam rumah duka, doa dipanjatkan secara bergantian. Suara lirih bacaan ayat suci dan zikir terdengar menyatu dengan suasana hening. Anggota keluarga menerima tamu dengan ketegaran yang menyiratkan duka mendalam. Beberapa kerabat terlihat saling menguatkan, menggenggam tangan satu sama lain dalam diam.
Bagi sebagian warga Sumatera Selatan, Alex Noerdin adalah figur yang pernah berada di garis depan pemerintahan daerah. Ia dikenang melalui berbagai kebijakan dan proyek pembangunan yang pernah dijalankan. Namun di hari perpisahan ini, yang terasa bukan lagi soal jabatan atau dinamika politik, melainkan kehilangan seorang tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan daerah.
Karangan bunga yang terus berdatangan hingga menjelang petang menjadi simbol bahwa kepergian ini dirasakan melampaui lingkup keluarga. Setiap rangkaian bunga membawa satu pesan yang sama doa dan penghormatan terakhir.
Kepergian Alex Noerdin menutup satu bab penting dalam catatan politik Sumatera Selatan. Waktu akan menempatkan kiprahnya dalam perspektif sejarah. Namun dari pantauan di Jalan Merdeka hari ini, yang paling nyata adalah suasana haru yang menyelimuti kesedihan yang hadir dalam diam, dalam langkah perlahan para pelayat, dan dalam doa-doa yang tak henti dipanjatkan.
Di antara deretan karangan bunga yang memenuhi pandangan, tersirat satu gambaran sederhana sebuah perpisahan yang diiringi penghormatan, dalam suasana yang tenang namun menyentuh hati. (hasan )








