“Panda” Sapi Kurban Presiden Bakal Disalurkan ke Kawasan Padat Penduduk

Palembang,Focuskini

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumatera Selatan, Ruzuan Effendi, mengonfirmasi bahwa sapi peranakan seberat 964 kilogram bernama Panda, milik peternak bernama Sutejo terpilih menjadi nuju Mushola Nurul Huda Palembang.

Ruzuan menegaskan jika regulasi penempatan tempat penyerahan hewan kurban kepresidenan ini murni berdasarkan instruksi langsung Kepala Negara yang menginginkan agar distribusi daging kurban tepat sasaran dengan menyasar area pemukiman yang padat penduduk.

“Yang ini namanya Panda, mukanya seperti panda. Kalau yang dari provinsi namanya Arjuna, dan sesuai dengan namanya, Arjuna,” ujar Ruzuan Effendi, Selasa (19/5/2026).

Ruzuan menyebut jika timbangan terakhir sebulan lalu menunjukkan bobot Panda berada di angka 964 kilogram, sedikit di bawah Sapi Arjuna milik provinsi yang berukuran raksasa.

Pihaknya optimistis timbangan Panda bisa menyentuh target satu ton saat hari H penyerahan, apabila hewan ternak tersebut dipelihara secara konsisten dan menghabiskan makanannya dengan lahap oleh pihak peternak.

“Kalau untuk Panda, lebih kurang 964 kilogram, kalau tidak salah. Itu penimbangan terakhir satu bulan yang lalu. Mudah-mudahan sekarang ada kenaikan. Kalau memang dipelihara dengan baik dan makannya lahap, mudahan-mudahan bisa sampai satu ton,” imbuhnya.

Ia juga menitipkan pesan penting bagi seluruh peternak lokal yang hewan peliharaannya masuk dalam daftar bursa bantuan kurban kepresidenan di wilayah Sumatera Selatan.

Jajaran dinas meminta agar para pemilik terus memperhatikan kebersihan, rutin memberikan suntikan vitamin harian, serta menjaga kualitas kesehatan agar kondisi fisik satwa tetap prima dan gemuk.

“Tapi yang jelas kami berharap kepada seluruh peternak yang sapinya menjadi calon bantuan kurban Presiden, agar selalu dipelihara, diberi vitamin, kesehatannya selalu diperhatikan, tetap sehat, dan tetap gemuk sampai hari penyerahan nanti,” tambahnya.

Terkait mekanisme birokrasi serah terima di lapangan, Ruzuan menjelaskan bahwa jajarannya sedang merampungkan seluruh pemberkasan dokumen administrasi agar tidak menemui kendala prosedur.

Skenario penghitungan teknis mengenai jalur distribusi satwa kurban tersebut akan mulai dihitung secara mendetail oleh tim dinas pada keesokan harinya, sembari menunggu komando virtual dari Sespres.

“Untuk penyerahan, saat ini masih proses penyelesaian administrasi. Mudah-mudahan nanti akan ada komando dari SESPRES untuk penyerahannya, mungkin secara virtual. Kalau untuk penyerahan secara teknisnya, mungkin insyaallah besok juga akan kita hitungkan. Tapi nanti kita lihat lagi, karena kita masih menunggu petunjuk dari SESPRES,” jelasnya.

Mengenai lokasi pemotongan, pemerintah daerah menempatkan sapi tingkat provinsi di Masjid Taqwa, sedangkan kuota Kota Palembang dialokasikan menuju Musala Nurul Huda.

Ruzuan menegaskan pemilihan tempat penyerahan ini murni berdasarkan instruksi langsung Kepala Negara yang menginginkan agar distribusi daging menyasar area pemukiman yang padat penduduk.

“Pak Presiden berharap setiap sapi kurban diberikan kepada masjid atau musala yang padat lingkungan. Jadi bukan wajib harus masjid jami, masjid agung, atau masjid-masjid besar, itu harapannya,” tegasnya.

Sementara itu, Sutejo selaku pemilik peternakan sapi di Jalan TPA Sukawinatan, mengaku sangat bersyukur atas kepercayaan tersebut, mengingat populasi sapi berukuran jumbo di tingkat peternak lokal pada tahun ini terbilang sangat langka dan didominasi ukuran kecil.

Sapi bercorak hitam putih unik menyerupai panda yang telah dirawat selama tiga tahun lebih tersebut kini juga telah mendapatkan penawaran harga dari tim kepresidenan.

“Ya cukup bersyukur, karena selama tahun ini ternak-ternak yang lebih besar seperti ini memang tidak banyak. Kebanyakan untuk arisan atau ukuran yang lebih kecil. Jadi bersyukur bisa terpilih untuk di kota. Kalau bisa tahun depan dapat lagi, bisa dirilis lagi,” ujar Sutejo saat dibincangi di lokasi peternakannya.

Sutejo menceritakan jika dirinya telah memelihara sapi jenis peranakan tersebut sejak momen lebaran yang lalu atau sekitar tiga tahun lebih lamanya, dengan perkiraan usia satwa yang kini menginjak tiga tahun.

Terkait dengan nilai jual dari sapi jumbo miliknya tersebut, Sutejo juga membeberkan nominal penawaran yang diajukan oleh tim kepresidenan.

“Kalau untuk harganya kemarin Rp115 juta, tapi masih ditawar oleh mereka,” tuturnya.

Ia mengakui tantangan terbesar dalam membesarkan Panda terletak pada faktor finansial akibat besarnya pengeluaran operasional pakan harian yang dinilai sudah agak berat.

Guna mengantisipasi hal itu, Sutejo harus memberikan perhatian penuh terhadap asupan nutrisi harian yang dibutuhkan oleh hewan ternaknya.

“Kalau kesulitan selama memelihara Panda, ya biaya saja yang memang sudah agak berat. Tapi ya karena sudah besar begini, memang harus full makanannya, vitamin juga, terus perawatan dan makanan-makanan spesial untuk menunjang,” ungkapnya.

Setiap hari, Panda menghabiskan pasokan ampas sebanyak kurang lebih 15 kilogram yang dikombinasikan dengan konsentrat sekitar 2 sampai 3 kilogram, serta rumput segar dalam jumlah melimpah sesuai kapasitas wadah yang disiapkan.

Guna menjamin ketersediaan pakan hijau, dirinya menanam sendiri lahan rumputnya yang bisa dipanen setiap dua minggu sekali setelah mempelajari polanya melalui tayangan YouTube.

“Kalau untuk sehari-hari, kalau ampas itu kurang lebih 15 kilogram. Kalau konsentratnya sekitar 2 sampai 3 kilogram. Kalau untuk rumput, dia mampu makan sesuai yang disiapkan,” jelasnya.

Ia mengaku jika masalah ketersediaan rumput menjadi faktor paling krusial karena satwa peliharaannya bisa kekurangan makan jika rumput-rumputan tidak tersedia di kandang.

Ia mengenang masa lalu sebelum memiliki lahan pakan mandiri, di mana dirinya harus bersusah payah mencari rumput hingga ke lokasi yang jauh.

“Kalau masalah rumput, kita punya lahan pakan sendiri, memang kita tanam. Untuk dua minggu sekali bisa dipanen. Kalau dulu belum ada, masih cari-cari jauh. Alhamdulillah sekarang sudah pakai konsep, lihat-lihat dari YouTube. Yang utama memang pakan untuk ternak ini harus tersedia. Kalau tidak ada pakan, ya kurang makan dari segi rumput-rumputannya,” bebernya.

Menurut Sutejo, sapi peranakan berbobot jumbo ini sebenarnya tidak terlalu rewel dalam hal pemeliharaan, asalkan pemiliknya bisa membangun kedekatan emosional yang intim.

Sutejo menekankan prinsip penting di mana seorang peternak harus bisa menyatu dan sejiwa dengan hewan peliharaannya agar satwa tidak mudah emosional di dalam kandang.

“Untuk perawatan, kalau kita sejiwa, tidak apa-apa. Kalau sejiwa, kita harus sejiwa dulu dengan ternak. Kalau tidak sejiwa, ternak akan lebih emosian, lebih tidak cocok dengan kita. Kita juga harus benar-benar menyatu dengan ternak. Kalau saya sapi, ya jadi saya sapi,” ungkapnya.

Terkait asal-usul penamaan, Sutejo memberikan nama Panda karena sapi tersebut karena memiliki corak warna hitam putih serta lingkaran hitam di area mata yang menyerupai kacamata panda.

Di matanya, keunikan fisik tersebut membuat Panda terlihat jauh lebih ganteng dan lebih gagah, serta mengubah rasa lelah merawatnya menjadi sebuah hobi yang mendatangkan kepuasan tersendiri.

“Namanya Panda karena jenisnya seperti panda, hitam putih. Kacamata juga tadi. Menurut saya, Panda lebih ganteng, lebih gagah. Kalau sudah merawat sampai seperti ini, kita senang, sampai-sampai jadi hobi. Kalau peternak sudah hobi, soal biaya nanti tidak akan membohongi hasilnya,” tutupnya. (Tia)