Palembang,Focuskini
Pemerintah dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akhirnya angkat suara, Roblox tak lagi bisa dipandang sebagai hiburan ringan anak-anak di sela waktu senggang atau libur sekolah. Di balik tampilan ramah dan dunia virtual yang seolah kreatif, gim daring ini dinilai menjadi mesin perusak imajinasi, disiplin, dan kestabilan emosi, mendorong anak kian malas belajar serta menjauh dari kegiatan positif.
Di tangan anak-anak, gawai pun berubah menjadi senjata sunyi bukan membunuh dengan peluru, melainkan menghabisi waktu, melemahkan nalar, dan meruntuhkan karakter sejak bangku sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Palembang, Ir. H. M. Affan Prapanca, M.T., IPM., menyebut, maraknya gim daring Roblox di kalangan siswa SD dan SMP sebagai ancaman serius yang tak boleh lagi ditoleransi.
Menurut Affan, Roblox telah melampaui batas sebagai sarana hiburan. Gim ini, kata dia, telah menjelma menjadi racun sosial yang secara sistematis merusak fondasi pendidikan sejak usia dini fondasi yang seharusnya dibangun dengan disiplin, daya juang, dan proses berpikir yang matang.
“Ini bukan sekadar anak bermain gim. Ini soal masa depan mereka. Roblox membius anak-anak kita dengan dunia semu dan menipu mereka seolah itu kreativitas,” tegasnya.
Ia menilai, Roblox membentuk mental instan pada anak. Anak dibiasakan dengan kepuasan cepat tanpa proses, tanpa kerja keras, tanpa kegigihan. Akibatnya, daya pikir tumpul, imajinasi melemah, dan anak kehilangan kemampuan untuk berjuang dalam dunia nyata.
Dampaknya terlihat nyata dalam perilaku sehari-hari. Anak menjadi mudah emosional, sulit diatur, enggan belajar, dan kehilangan minat pada aktivitas yang membentuk karakter. Buku ditinggalkan, tugas sekolah diabaikan, dan interaksi sosial tergantikan oleh layar.
Lebih mengkhawatirkan, banyak anak kehilangan kendali atas waktu. Berjam-jam dihabiskan untuk menjelajah dunia virtual yang tak pernah memberi nilai akademik, sementara kewajiban belajar dan pembentukan karakter dibiarkan runtuh perlahan.
“Anak-anak seharusnya diasah lewat membaca, menulis, menggambar, dan berdiskusi. Tapi Roblox justru mematikan semua itu. Imajinasi diganti ilusi, proses diganti sensasi,” ujarnya.
Affan mengingatkan, bahaya Roblox tidak selalu terasa hari ini. Namun ledakannya akan terasa di masa depan saat sekolah gagal melahirkan generasi yang tangguh. Anak mungkin melek teknologi, tetapi rapuh secara mental, kedisiplinan diabaikan, menurutnya kemauan belajar dikarenakan kecanduan bermain gim tersebut.
Dalam konteks ini, Affan menegaskan, sekolah tidak bisa berjuang sendirian. Peran orang tua menjadi penentu apakah menjadi benteng terakhir atau justru pihak yang paling lalai.
“Jangan jadikan gawai sebagai pengasuh anak. Kehadiran orang tua bukan sekadar ada di rumah, tapi hadir dalam pengawasan dan ketegasan,” katanya.
Ia mengimbau orang tua untuk memutus ketergantungan anak terhadap gim daring, membatasi penggunaan gawai, serta mengontrol ketat konten digital yang dikonsumsi anak. Rumah, menurutnya, harus dikembalikan sebagai ruang belajar dan pembentukan karakter, bukan arena bebas layar.
“Ilmu tidak lahir dari gim. Masa depan tidak dibangun dari dunia virtual. Anak harus kembali belajar, mengulang pelajaran, dan membangun disiplin diri,” ujarnya.
Disdik Kota Palembang, lanjut Affan, akan terus mendorong penguatan literasi digital di sekolah. Teknologi, tegasnya, harus menjadi alat mencerdaskan, bukan alat penghancur masa depan generasi muda.
Gim Roblox ini merupakan ancaman terhadap anak – anak, tidak datang dengan wajah kriminal atau kekerasan. Ia hadir halus, menyenangkan, dan adiktif, lalu perlahan menggerogoti masa depan dari balik layar gawai anak-anak kita,”tutupnya.(hasan)














