Palembang,Focuskini
Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 18 Palembang, Selasa (21/4/2026), tak berhenti pada kemeriahan busana adat. Di balik warna-warni kebaya dan pakaian tradisional yang dikenakan guru, staf, dan siswa, tersimpan pesan tegas emansipasi bukan seremoni tahunan, melainkan sikap hidup yang harus dijalankan.
Suasana sekolah sejak pagi berubah menjadi ruang refleksi. Kegiatan yang biasanya bersifat simbolik diarahkan menjadi momentum membangun kesadaran tentang posisi perempuan di tengah perubahan zaman yang kian cepat.
Kepala sekolah, Nofritawati, menegaskan bahwa makna Kartini tidak boleh direduksi sekadar perayaan.
“Perempuan hari ini tidak cukup hanya hadir. Mereka harus mampu bersaing, berkontribusi, dan memberi dampak nyata. Emansipasi bukan slogan, tetapi tindakan,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh mengikis nilai. Menurutnya, kekuatan perempuan justru terletak pada keseimbangan antara peran publik dan tanggung jawab moral.
“Perempuan boleh berada di ruang mana pun, tetapi akar nilai tidak boleh hilang. Karakter tetap dibangun dari keluarga dan pendidikan,” katanya.
Dalam kesempatan ini, sambung
Nofritawati, siswa diajak mengenal lebih dalam gagasan R. A. Kartini, bukan sekadar menghafal nama. Surat-surat Kartini dibahas sebagai refleksi pemikiran tentang perjuangan keluar dari keterbatasan tanpa meninggalkan martabat.
Pesan itu disampaikan tegas kepada generasi muda. Siswi didorong memahami emansipasi secara bijak bukan kebebasan tanpa batas, melainkan kemampuan bertanggung jawab. Sementara siswa laki-laki diingatkan untuk menumbuhkan sikap hormat, sebagai fondasi hubungan sosial yang sehat.
“Rangkaian kegiatan pun dirancang tidak sekadar meriah. Lomba busana Kartini digelar dengan penilaian tak hanya pada tampilan, tetapi juga sikap dan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai yang diusung. Pemenang mendapatkan penghargaan sederhana sebagai bentuk apresiasi dan motivasi,” ujarnya.
Nofritawati menegaskan, kegiatan seperti ini harus memberi dampak jangka panjang, bukan berhenti pada satu hari peringatan.
“Kami ingin siswa tidak hanya merayakan Kartini, tetapi meneladani. Perempuan harus berdaya, laki-laki harus menghargai. Di situlah keseimbangan terbentuk,” ujarnya.
Ia berharap nilai yang ditanamkan mampu membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membentuk manusia. Kartini mengajarkan keberanian berpikir dan menjaga martabat. Itu yang harus terus hidup,” tutupnya. (Has)








