Kayuagung,Focuskini
Jalan tanah yang licin dan berlumpur tak menyurutkan langkah Alifia Naura Nazifah menjalankan tugasnya. Dengan sepeda motor, Mantri BRI Unit Sumber Hidup, BRI Branch Office Kayu Agung itu menyusuri jalan antardesa untuk menemui nasabah hingga ke rumah dan perkebunan.Senin (28/9/2026)
Medan sulit menjadi bagian dari kesehariannya saat melayani ratusan debitur yang tersebar di Desa Tanjung Makmur, Desa Kayu Labu, dan Desa Sido Mulyo, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Sebagian besar nasabah yang ditemuinya menggantungkan penghasilan dari perkebunan kelapa sawit dan karet. Sebagian lainnya menjalankan usaha toko sembako dan manisan.
Bagi Alifia, turun langsung ke lapangan bukan sekadar menjalankan tugas perbankan. Ia juga berupaya memahami kondisi usaha dan kehidupan masyarakat yang menjadi nasabahnya.
“Keputusan saya bergabung dengan BRI sebagai Mantri didasari oleh keinginan kuat untuk berkontribusi secara nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan. BRI memiliki jangkauan yang sangat luas hingga ke pelosok, sehingga profesi Mantri memberikan saya ruang untuk menjadi jembatan akses keuangan bagi masyarakat yang membutuhkan permodalan,” ujar Alifia.
Saat berada di lapangan, Alifia tidak hanya berbincang mengenai pembayaran maupun fasilitas kredit. Ia juga mendengarkan perkembangan usaha, kendala yang dihadapi nasabah, hingga melihat langsung aktivitas mereka di kebun sawit dan karet.
Pendekatan tersebut menjadi cara Alifia membangun kepercayaan dengan masyarakat.
“Membangun kepercayaan masyarakat desa memerlukan pendekatan humanis yang berlandaskan kearifan lokal. Saya selalu berusaha untuk bersikap terbuka, ramah, dan hadir bukan sekadar sebagai pihak perbankan, melainkan sebagai kawan diskusi yang memahami tantangan keseharian mereka,” ungkapnya.
Dari pertemuan langsung tersebut, Alifia dapat memahami kebutuhan masing-masing nasabah. Pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes menjadi salah satu fasilitas yang dimanfaatkan untuk kebutuhan modal kerja, investasi hingga peremajaan lahan perkebunan.
Tidak semua lokasi mudah dijangkau. Ketika kondisi jalan menuju permukiman atau perkebunan sulit dilalui, Alifia terlebih dahulu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat maupun ketua kelompok tani setempat untuk memastikan keberadaan debitur sebelum turun ke lapangan.
Bagi Alifia, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan.
Berinteraksi dengan ratusan debitur membuatnya melihat langsung bagaimana pembiayaan usaha berkaitan dengan harapan keluarga untuk mempertahankan dan mengembangkan sumber penghasilan.
“Pelajaran hidup terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya empati, ketekunan, dan rasa syukur. Berinteraksi langsung dengan ratusan debitur mengajari saya bahwa di balik setiap berkas kredit yang disetujui, ada harapan sebuah keluarga untuk kehidupan yang lebih sejahtera, dan menjadi bagian dari perjuangan mereka adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai,” ujar Alifia.
BOH BRI BO Kayu Agung Whendrawan Nusatyo Adi mengatakan, kisah Alifia menggambarkan peran Mantri BRI yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat di wilayah perdesaan.
“Peran seperti Alifia menunjukkan bahwa Mantri BRI memiliki posisi penting dalam membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat sekaligus memahami perkembangan usaha mereka secara langsung. Kedekatan tersebut menjadi kekuatan BRI untuk memperluas inklusi keuangan melalui layanan dan pembiayaan yang relevan, sekaligus memastikan kehadiran BRI dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di berbagai wilayah,” pungkas Whendrawan.













