Palembang,Focuskini
Realisasi penyaluran pupuk subsidi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) secara global telah mencapai angka 82 persen atau sebanyak 304.365 dari total alokasi 370.965 ton per tanggal 14 Desember 2025.
Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Sumsel, Bambang Pramono menyebut angka tersebut dipengaruhi adanya tambahan alokasi Urea sebesar 21 persen dan NPK sebanyak 30 persen.
“Sebenarnya jika tidak ada tambahan alokasi atau re-alokasi tersebut, kita sudah bisa menyerap hingga 100 persen,” ujar Bambang saat diwawancarai langsung, Senin (29/12/2025).
Ia merincikan bahwa Kota Prabumulih telah mencapai serapan maksimal 100 persen, sementara Kota Palembang masih tercatat sebagai yang terkecil dengan 36 persen.
Sementara itu, rendahnya serapan di beberapa wilayah seperti Ogan Ilir yang baru mencapai 59,53 persen disebabkan oleh kendala genangan air yang masih cukup tinggi.
Tahun 2026 pihaknya mengusulkan kenaikan alokasi pupuk NPK menjadi 274.000 ton dari alokasi sebelumnya sebesar 203.000 ton.
“Semoga usulan kenaikan sekitar 71.000 hingga 76.000 ton ini bisa diakomodir oleh Menteri demi mendukung target produksi nasional,” jelasnya.
Terkait strategi distribusi, pihaknya terus memperketat verifikasi dokumen melalui Simluhtan guna memastikan bantuan tepat sasaran kepada petani yang memiliki KTP dan lahan.
Ia menegaskan bahwa stok pupuk di distributor dan penyalur sepanjang tahun 2025 dalam kondisi berlimpah, sehingga tidak terjadi kelangkaan di lapangan.
Optimalisasi pupuk subsidi ini diharapkan mampu mendongkrak produksi gabah Sumsel yang tahun ini telah menyumbang 1,2 juta ton beras untuk surplus nasional.
“Kami mengimbau petani untuk segera melakukan penebusan dan memanfaatkan sisa waktu dua minggu ini sebelum masa pemutihan atau periode penyaluran berakhir,” pungkasnya. (Tia)














