Palembang,Focuskini
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyeret Israel membuat Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) meningkatkan kesiapsiagaan untuk melindungi pekerja migran asal daerah tersebut.
Meski hingga kini tidak ada PMI Sumsel yang tercatat bekerja di Iran, Israel, maupun Amerika Serikat, BP3MI Sumsel memastikan langkah antisipatif tetap dijalankan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Berdasarkan data BP3MI Sumsel pada 2024-2025, sebanyak 16 PMI asal Sumsel bekerja di beberapa negara Timur Tengah, seperti Kuwait, Arab Saudi, Abu Dhabi, Dubai, dan Oman.
Kepala BP3MI Sumsel, Waydinsyah, menekankan pentingnya pemantauan intensif agar keselamatan para PMI tetap terjaga.
“Jika terjadi eskalasi perang di kawasan Timur Tengah, kami siap memfasilitasi jalur evakuasi bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri. Keselamatan PMI menjadi prioritas utama kami,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Selain evakuasi, BP3MI Sumsel mengimbau keluarga PMI di kawasan terdampak agar segera melapor ke pihak berwenang. Pendataan ini penting untuk percepatan koordinasi dan tindakan jika situasi keamanan memburuk.
Langkah kesiapsiagaan BP3MI Sumsel juga mencakup penguatan komunikasi dengan perwakilan RI di luar negeri, memastikan jalur informasi dan bantuan selalu terbuka bagi PMI asal Sumsel.
“Kami menekankan, keselamatan PMI tidak bisa ditawar. Antisipasi dini adalah kunci agar mereka tetap terlindungi meski terjadi konflik di negara tempat mereka bekerja,” tandasnya. (Tia)














