TKA SMA 2025 Ungkap Capaian Belajar Siswa Sumsel Masih Belum Merata

Palembang,Focuskini

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMA di Sumatera Selatan tahun 2025 menghadirkan potret awal capaian pembelajaran siswa di daerah. Rerata nilai yang masih beragam antarmata pelajaran, dengan sejumlah capaian yang belum optimal, menjadi gambaran bahwa proses peningkatan mutu dan pemerataan kualitas pendidikan masih terus berproses dan membutuhkan penguatan berkelanjutan.

Sebagai kebijakan baru, TKA mulai diterapkan secara nasional pada tahun ini sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan akademik siswa secara lebih komprehensif. Karena masih berada pada tahap awal pelaksanaan, berbagai penyesuaian dinilai wajar terjadi, baik di tingkat sekolah maupun dalam kesiapan siswa menghadapi asesmen tersebut.

Kaprodi Administrasi Negara STIA ADS Palembang, Delfiazi Puji Lestari, menilai pelaksanaan TKA belum sepenuhnya berjalan optimal karena merupakan kebijakan yang baru pertama kali diterapkan. Menurut dia, setiap kebijakan pendidikan memerlukan waktu untuk beradaptasi sebelum menunjukkan hasil yang maksimal.

“Kebijakan ini baru dimulai dan dilaksanakan tahun ini, sehingga tentu belum bisa langsung berjalan sempurna. Diperlukan proses penyesuaian di lapangan,” ujarnya

Ia menambahkan, salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian lebih adalah penguatan literasi siswa. Kemampuan literasi, baik membaca, memahami teks, maupun berpikir kritis, dinilai menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai bentuk asesmen akademik, termasuk TKA.

“Dari sisi literasi, ini memang perlu diperkuat. Literasi yang baik akan sangat membantu siswa dalam memahami soal dan mengerjakan asesmen dengan lebih optimal,” katanya.

Selain itu, Delfiazi menilai pentingnya pemberian pemahaman sejak dini kepada siswa terkait mekanisme dan cakupan materi TKA. Mengingat asesmen ini dilaksanakan pada akhir tahun, siswa perlu dibekali informasi yang cukup sejak awal agar lebih siap secara mental dan akademik.

“TKA itu diadakan pada akhir tahun. Karena itu, sebelum pelaksanaannya, siswa perlu diberikan gambaran yang jelas mengenai bentuk asesmen dan materi yang diujikan, seperti matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan praktisi pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Afriantoni. Ia menekankan bahwa keberhasilan pelaksanaan TKA tidak hanya bergantung pada siswa, tetapi juga pada sejauh mana sosialisasi dilakukan kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Sosialisasi menjadi kunci. Siswa, guru, hingga orang tua perlu memahami tujuan, manfaat, dan mekanisme TKA agar asesmen ini tidak dipersepsikan sekadar sebagai ujian tambahan,” katanya

Menurut dia, komunikasi yang baik akan membantu menciptakan pemahaman bersama bahwa TKA merupakan alat evaluasi untuk melihat capaian pembelajaran, bukan untuk memberi label atau tekanan berlebih kepada peserta didik maupun satuan pendidikan.

Lebih jauh, hasil TKA diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari sekolah, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan, perbaikan metode pembelajaran, serta penguatan kapasitas guru dan sekolah.

“Dengan pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi instrumen pengukuran semata, tetapi juga bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sumatera Selatan secara lebih merata dan berkesinambungan,”pungkasnya.(hsn)