Palembang,Focuskini
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seiring dengan tingginya curah hujan di awal tahun 2026.
Kondisi cuaca yang tidak menentu dan banyaknya genangan air pascabanjir di sejumlah wilayah seperti OKU Timur dan OKI dinilai menjadi faktor utama meningkatnya perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel mengingatkan bahwa kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit mematikan tersebut.
“Kami meminta masyarakat untuk lebih giat melakukan gerakan 3M Plus, terutama di wilayah-wilayah yang baru saja terdampak luapan air atau banjir,” ujar Kadinkes Sumsel, dr. Trisnawarman, Senin (12/1/2026).
Berdasarkan data pemantauan, tren kasus DBD cenderung mengalami peningkatan saat memasuki musim penghujan akibat banyaknya tempat penampungan air alami yang tidak terkontrol.
Pihak Dinkes juga telah menginstruksikan seluruh jajaran Puskesmas di kabupaten/kota untuk bersiaga dan mempercepat proses deteksi dini terhadap warga yang mengeluhkan gejala demam tinggi.
Upaya pencegahan melalui pengasapan (fogging) akan tetap dilakukan secara selektif pada wilayah yang telah ditemukan kasus positif berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, maka tindakan yang paling efektif tetaplah pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri oleh warga,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan terdekat jika ditemukan gejala bintik merah pada kulit atau penurunan trombosit yang drastis.
Keterlambatan penanganan medis pada pasien DBD dikhawatirkan dapat berakibat fatal, mengingat risiko sindrom syok dengue yang sangat berbahaya.
“Jangan menunggu kondisi parah, segera periksakan ke dokter jika demam tidak turun dalam dua hari agar mendapatkan penanganan yang tepat,” pungkasnya. (Tia)








