Palembang, Focuskini
Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Masjid Al Jannah, Jalan Belida Raya, Kelurahan Sako, Kecamatan Sako, Kota Palembang, saat ratusan guru ngaji berkumpul dalam peringatan Hari Guru Ngaji se-Sumatera Selatan.
Bukan sekadar seremonial, momen ini menjadi ruang hati tempat para pejuang Al-Qur’an berkumpul, saling menguatkan, dan mengingat kembali alasan mereka melangkah: mengharap ridho Allah semata.
Ketua pelaksana, R. M. Ismul Adham Alkabir, membuka sambutan dengan ucapan jazakumullah khairan kepada seluruh tamu undangan, khususnya para ustadz dan ustadzah yang hadir mewakili setiap kecamatan. Dengan suara yang sarat makna, ia mengingatkan bahwa setiap langkah menuju majelis ini hendaknya bukan karena dunia, melainkan semata-mata karena mengharapkan ridho Allah SWT.
Namun suasana semakin hening ketika ia memaparkan sebuah kenyataan yang menggugah. Data nasional menunjukkan 72 persen masyarakat Indonesia masih buta aksara Al-Qur’an. Lebih dekat lagi, dari hasil survei kecil di Kecamatan Sako terhadap sekitar 300 wali santri dari 4 kelurahan dan 30 unit, sebanyak 53 persen belum mampu membaca Al-Qur’an, sementara sisanya pun masih jauh dari sempurna.
Angka-angka itu bukan sekadar data melainkan panggilan. Bahwa perjuangan guru ngaji belum selesai. Bahkan semakin dibutuhkan. Bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk membimbing orang tua, membangun satu kesatuan umat yang mencintai Al-Qur’an. “Semoga momen ini menjadi penguat semangat kita untuk terus menebar manfaat,” ujarnya.
Ketua DPD BKPRMI Kota Palembang, Anang Suroso, turut menyampaikan realita yang tak kalah menyentuh. Di balik besarnya jasa guru ngaji, kesejahteraan mereka sering kali terabaikan. Dengan senyum yang menyiratkan keikhlasan sekaligus keprihatinan, ia menyampaikan bahwa guru ngaji adalah sosok yang tidak pernah menuntut, tidak meminta diangkat menjadi P3K, tidak meminta hak MBG bahkan tidak berharap lebih dari apa yang mereka jalani.
“Padahal mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Ia pun berharap, di masa mendatang, pemerintah kota dapat mulai melirik dan memperhatikan kesejahteraan guru ngaji, bahkan menargetkan adanya anggaran khusus pada tahun 2027.
Sementara itu mewakili kelurahan, Kasi Pemerintahan Very, membawa hadirin pada kenangan sederhana namun penuh makna. Ia bercerita tentang masa kecilnya ketika belajar mengaji, di mana seorang guru ngaji hanya diberi upah berupa minyak lampu, agar cahaya tetap menyala saat mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an.
Dari kesederhanaan itu lahir keberkahan yang luar biasa. Sebuah pengingat bahwa perjuangan yang tulus, sekecil apa pun, akan dibalas oleh Allah dengan cara yang tak terduga.
Ketua DPW BKPRMI Sumatera Selatan, Ustadz Firdaus, S.H., menjelaskan bahwa peringatan Hari Guru Ngaji ini lahir dari sebuah gagasan sederhana dalam pertemuan pengurus se-Sumatera Selatan. Dari ruang pertemuan di kantor camat IT1, tumbuh sebuah tekad untuk menetapkan 16 Maret sebagai Hari Guru Ngaji, sebuah bentuk penghormatan atas jasa besar para pengajar Al-Qur’an.
Ia juga mengingatkan tentang sosok KH. As’ad Humam, penemu metode Iqro, yang telah memudahkan jutaan umat dalam belajar Al-Qur’an, bahkan hingga ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. “Ini adalah warisan besar. Dan guru ngaji adalah penjaga warisan itu,” tegasnya.
Momen paling mengharukan terjadi saat penyerahan apresiasi kepada Ustadz Sarkowi. Selama kurang lebih 30 tahun, beliau mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an dan aktif dalam organisasi BKPRMI dari tingkat DPK hingga DPW. Bantuan sebesar Rp1.000.000 yang diberikan mungkin tidak sebanding dengan pengabdiannya, namun menjadi simbol cinta, penghargaan, dan penghormatan yang tulus.
Acara kemudian ditutup dengan tausiyah bertema “Berkah Bersama Al-Qur’an” oleh Ustadz H. Ufik Reza, S.H.I. Dengan penuh ketulusan, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang pernah menjadi marbot sekaligus guru ngaji. Dari titik itu, Allah mengangkat derajatnya hingga mampu berdakwah ke berbagai pelosok daerah.
Ia mengingatkan bahwa menjadi guru ngaji bukan tentang besar kecilnya upah, melainkan tentang keberkahan yang tak ternilai.
“Pahala mengajarkan Al-Qur’an tidak akan pernah terputus, bahkan hingga hari kiamat,” ujarnya. Namun ia juga berpesan agar keikhlasan tetap dijaga, karena itulah ruh dari setiap amal.
Di akhir kegiatan, yang tersisa bukan hanya rangkaian acara, melainkan getaran hati. Bahwa di tengah keterbatasan, para guru ngaji tetap berdiri. Mengajar dengan sabar, membimbing dengan cinta, dan berharap hanya kepada Allah.
Dari Masjid Al Jannah, sebuah pesan kuat mengalir: Guru ngaji mungkin tak dikenal dunia, namun jasanya abadi hingga surga.
Hari Guru Ngaji adalah inisiatif Ketum DPW BKPRMI SUMSEL sebagai momentum utk mengenang KH. As’ad Humam (Lahir : 16 Maret 1933) dan upaya utk memberikan apresiasi, perhatian serta kepedulian kepada ust/zh BKPRMI Sumsel. Ditetapkan dlm Rakorwil LPPTKA Sumsel dan dilaunching saat Milad LPPTKA Ke-36 tanggal 14 Agustus 2025 di Sekretariat DPW BKPRMI Sumsel.
16 Maret 2026 adalah Peringatan Hari Guru Ngaji Pertama. Semangatnya merata ke seluruh DPD BKPRMI se-Sumsel. PUNCAK ACARA diadakan giat di DPD masing2 pada tgl. 16 Maret dg melibatkan pihak eksternal termasuk Pemkab/Pemkot, Kemenag, BUMN/BUMD serta dermawan/donatur lainnya.
Naskah Penetapan yg dibacakan saat launching oleh Ketum DPW BKPRMI Sumsel Ust. FIRDAUS, SH disimpan sbg dokumen penting dan bersejarah di sekretariat DPW BKPRMI Sumsel.(soim)














