Palembang,Focuskini
Nafsu bejat dan perilaku biadab kembali mencoreng wajah kota. Di kawasan Jalan Karang Sari, Kecamatan Gandus, seorang anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) harus menjadi korban tindak pidana luar biasa sadis. Berinisial Bunga (nama samaran), siswi polos itu dirudapaksa oleh seorang pria tak dikenal yang menyamar atau mengenakan jaket khas pengemudi ojek online (Ojol).
Kejadian mengerikan ini terjadi pada Minggu malam, 3 Mei 2026, sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, luka mendalam dan aib keluarga ini baru terungkap ke publik dan dilaporkan ke pihak berwajib pada Selasa, 5 Mei 2026.
Peristiwa naas itu bermula dari kepolosan Bunga. Ia berpamitan kepada orang tuanya ingin keluar rumah untuk menikmati tontonan hiburan tari India bersama teman-teman sebayanya sekitar pukul 19.30 WIB. Di tengah suasana keramaian yang seharusnya aman, justru terselip bahaya maut. Mata jahat pelaku mengintai kesempatan.
Dengan modus yang sangat licik dan keji, pelaku mendekati korban. Ia memanfaatkan uang sebagai alat bujuk rayu. Memanfaatkan usia Bunga yang masih belia dan belum mengerti bahaya, “iblis berbaju manusia” itu berhasil membawanya ke tempat sepi. Di sana, masa depan anak tersebut direnggut paksa melalui tindakan asusila yang tak termaafkan.
Saat ini, Bunga tengah menjalani perawatan intensif di rumahnya. Ia bukan hanya berjuang menyembuhkan luka fisik, tetapi juga bergelut dengan trauma mendalam yang kemungkinan besar akan membayangi hidupnya selamanya. Sementara itu, pelaku masih buron dan menjadi buronan utama yang diburu kepolisian.
Menyikapi kasus yang mengguncang dunia pendidikan tersebut, Ketua PGRI Kota Palembang sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Kota Palembang, Dr. Ahmad Zulinto, S.Pd., M.M., menyampaikan kecaman keras terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap siswi sekolah dasar di Kecamatan Gandus. Ia menilai tindakan tersebut sebagai kejahatan serius yang melukai rasa kemanusiaan dan merusak masa depan anak.
“Ini tindakan yang sangat biadab dan tidak bisa ditoleransi. Korbannya anak kecil yang masih duduk di bangku SD. Kejahatan seperti ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi bangsa,” tegas Zulinto, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terutama aparat penegak hukum. Ia meminta kepolisian bergerak cepat mengungkap identitas pelaku dan memastikan proses hukum berjalan tanpa kompromi.
“Kami berharap Kapolda Sumsel, Kapolrestabes Palembang, hingga jajaran Polsek bekerja maksimal memburu pelaku. Informasi dari rekaman CCTV harus dimaksimalkan sebagai petunjuk penting. Jangan sampai pelaku lolos dari jerat hukum,” ujarnya.
Zulinto juga mengapresiasi langkah awal aparat kepolisian yang telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Namun menurutnya, masyarakat menunggu tindakan nyata berupa penangkapan pelaku dan hukuman yang setimpal.
“Pelaku harus dihukum seberat-beratnya agar memberikan efek jera. Negara tidak boleh kalah terhadap predator anak. Hukuman tegas penting agar tidak ada lagi pelaku lain yang berani merusak masa depan anak-anak,” katanya.
Ia menegaskan, tragedi tersebut menjadi alarm keras bagi semua pihak bahwa ancaman terhadap anak dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Karena itu, pengawasan terhadap anak dan kepedulian lingkungan sekitar harus diperkuat.
“Ini menjadi pelajaran besar bagi kita semua. Orang tua harus meningkatkan pengawasan, lingkungan harus lebih peduli, dan masyarakat jangan takut bertindak jika melihat hal mencurigakan. Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (Has)








