Palembang,Focuskini
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan (BI Sumsel) bersama dengan BPS Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan kegiatan BERSUA (Berjejaring dan Bersinergi untuk Akselerasi) yang menjadi wadah untuk mendiseminasikan informasi dan penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam rangka mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah. Kegiatan yang berlangsung di Kantor BI Sumsel tersebut dihadiri oleh berbagai unsur strategis di daerah antara lain perwakilan forkopimda, instansi vertikal, perbankan serta media massa regional. Hal ini menegaskan keseriusan dalam menghadapi dinamika perekomian yang semakin kompleks dan memerlukan kolaborasi lintas sektor dalam meresponnya.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono menyampaikan terkait perkembangan ekonomi terkini baik pada level global, nasional, maupun regional. “Kami optimis dan akan all out mempekuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.” Ujar Bambang. Selain itu Bambang juga memaparkan alasan dibalik kenaikan BI Rate menjadi 5,50% bahwa Bank indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing. Selain itu untuk mendukung kebijakan kenaikan BI Rate tersebut, BI juga menempuh langkah-langkah strategis penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing sebagai berikut:
- Kenaikan struktur suku bunga SRBI pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk semakin meningkatkan imbal hasil bagi masuknya investasi portfolio asing. Kenaikan struktur suku bunga SRBI dimaksud dilakukan sesuai mekanisme pasar dan untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain.
- Pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10% untuk semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor. Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia memberikan fasilitas swaplindung nilai bagi masuknya investasi asing melalui bank-bank di Indonesia yang kemudian meneruskan kepada Bank Indonesia. Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler (reguler swap) tetap harus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku.
- Pembukaan kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan sasaran agar pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap double digit (diatas 10%). Perluasan fasilitas repo ini akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan dengan mekanisme lain, termasuk melalui pembelian SBN dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh Bank Indonesia.
- Peningkatan intensitas operasi moneter baik Rupiah maupun valuta asing untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah. Penguatan operasi moneter Rupiah ditempuh dengan pembukaan lelang SRBI dua kali seminggu. Sementara itu, penguatan operasi moneter valuta asing terus dilakukan dengan meningkatkan intensitas intervensi baik melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik maupun transaksi NDF di pasar luar negeri.
Dalam paparannya, Bambang Pramono turut menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Sumatera Selatan juga konsisten memperlihatkan kinerja ekonomi yang positif, tercermin dari pertumbuhan ekonominya pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 5,34% (yoy), inflasi yang masih terjaga sesuai sasaran inflasi nasional, pertumbuhan DPK pada triwulan II 2026 sebesar 7,03% (yoy) dan pertumbuhan kredit pada triwulan II 2026 sebesar 10,54% (yoy), dan digitalisasi sistem pembayaran Sumatera Selatan yang terus menunjukkan kinerja yang positif. Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,00%-5,80% dengan inflasi yang berkisar di rentang sasaran 2,5 +- 1% pada 2026.
Pemaparan dilanjutkan oleh Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto yang menyampaikan terkait dengan perkembangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Sensus Ekonomi merupakan salah satu instrumen strategis dalam menyediakan data dasar yang komprehensif mengenai aktivitas ekonomi nasional maupun daerah. Data yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan Nasional.
Melalui forum ini, BI juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat komunikasi kebijakan dan sinergi dengan mitra kerja strategis di daerah. Pemahaman yang selaras menjadi kunci dalam menjaga optimisme memperkuat arah kebijakan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat dari pemangku kepentingan. Forum BERSUA dirancang pula menjadi ruang dialog interaktif yang lebih mendekatkan pemangku kepentingan dengan media selaku wakil dari masyarakat dalam menyuarakan aspirasi dan juga memperoleh informasi terkini terkait kondisi ekonomi khususnya di Sumatera Selatan. Setiap peserta yang hadir, memiliki kesempatan yang sama dalam meja diskusi untuk bertukar pandangan terkait isu strategis yang mempengaruhi ekonomi Sumatera Selatan.
Ke depan, harapannya sinergi dan kolaborasi antar lembaga, pemangku kepentingan dan media dapat terus diperkuat guna mendukung terciptanya stabilitas ekonomi yang menjadi dasar untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Sumatera Selatan meskipun ditengah goncangan dinamika global yang terus menguat. Informasi lebih lanjut mengenai rangkaian kegiatan BERSUA dapat diakses melalui kanal media sosial resmi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan di @bank_indonesia_sumsel.(soim)













