Palembang,Focuskini
Di tengah tuntutan birokrasi yang kian kompleks, capaian akademik tinggi kembali lahir dari lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan. Kepala Bagian Tata Usaha, Dr. H. Taufiq, S.Pd.I., M.H.I., resmi meraih gelar doktor usai menjalani sidang terbuka promosi doktor di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (7/4/2026).
Namun, capaian ini bukan sekadar seremoni akademik. Taufiq tercatat sebagai doktor ke-299 yang diluluskan institusi tersebut sebuah angka yang menegaskan konsistensi kampus dalam melahirkan akademisi, sekaligus menandai lompatan penting dalam perjalanan intelektual seorang aparatur negara.
Dalam sidang terbuka yang berlangsung ketat, Taufiq mengusung disertasi berjudul “Dinamika Sosial dalam Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Musi (Perspektif ‘Urf)”. Penelitian ini menyoroti satu isu krusial bagaimana tradisi lokal bertahan, berubah, bahkan bernegosiasi di tengah derasnya modernisasi.
Mengambil lokasi kajian di sepanjang aliran Sungai Musi, khususnya wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Taufiq memetakan pergeseran nilai dalam praktik perkawinan masyarakat Melayu. Ia menemukan bahwa adat tidak sekadar diwariskan, melainkan terus diuji oleh zaman dipertahankan, disesuaikan, atau bahkan ditinggalkan.
Pendekatan ‘urf yang digunakan yakni konsep dalam hukum Islam yang mengakui adat sebagai sumber pertimbangan menjadi pisau analisis utama. Dari sini, Taufiq menegaskan bahwa adat Melayu Musi bukan sekadar simbol budaya, tetapi sistem sosial yang hidup dan terus bergerak.
“Adat perkawinan Melayu Musi tidak berhenti pada seremoni. Di dalamnya ada struktur sosial, nilai kolektif, dan identitas yang terus beradaptasi. ‘Urf membantu kita membaca bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan,” ujar Taufiq dalam sidang.
Sidang promosi dipimpin Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A., dengan Prof. Dr. Hamidah, M.Ag., sebagai sekretaris. Ujian berlangsung intens, menghadirkan penguji lintas disiplin yang menguji kedalaman analisis, konsistensi metodologi, hingga relevansi temuan penelitian.
Di hadapan tim penguji Dr. Syafitri Irwan, M.Pd.I., Prof. Dr. Qodariah Barkah, M.H.I., Dr. Syahril Jamil, M.Ag., dan Prof. Dr. Arne Huzaimah, M.Hum.Taufiq mampu mempertahankan argumen ilmiahnya secara solid. Disertasi ini juga merupakan hasil pembimbingan dari Prof. Dr. Izomiddin, M.A., selaku promotor, serta Dr. K.A. Bukhori, M.Hum., sebagai co-promotor.
Lebih jauh, riset ini dinilai tidak berhenti pada ruang akademik. Temuan Taufiq membuka ruang baru dalam upaya pelestarian budaya lokal Sumatera Selatan terutama dalam menghadapi tekanan globalisasi yang kerap menggerus identitas daerah.
Di tengah arus perubahan yang tak terelakkan, kajian ini mengirim pesan tegas: budaya tidak boleh sekadar dikenang, tetapi harus dipahami secara kritis dan dijaga relevansinya dalam kehidupan modern.
Suasana haru menutup sidang terbuka tersebut. Bagi Taufiq, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan tanggung jawab intelektual. Sementara bagi lingkungan Kanwil Kemenag Sumsel, keberhasilan ini menjadi sinyal kuat bahwa aparatur negara dituntut tidak hanya bekerja administratif, tetapi juga berpikir akademik dan strategis.
Capaian ini menegaskan satu hal penting di tengah padatnya tugas pelayanan publik, ruang untuk tumbuh secara intelektual tetap terbuka dan justru menjadi kunci untuk memperkuat kualitas pengabdian kepada masyarakat,” tutupnya. (hasan)














