Palembang,Focuskini
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru mengharapkan lingkungan kampus dapat menjadi pusat edukasi sekaligus penggerak perubahan yang nyata dalam upaya pelestarian alam di Provinsi Sumatera Selatan.
Harapan tersebut disampaikannya secara langsung
“Sekarang iklim sudah anomali. Sudah hampir Juni tapi masih hujan. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Deru.
Deru mengungkapkan keprihatinannya mengenai kondisi saat ini, di mana berbagai jenis kayu khas Sumatera Selatan seperti jelutung, merawan, hingga merbau sudah semakin langka dan sulit ditemui, padahal dahulu jenis-jenis pohon tersebut sangat mudah ditemukan di kawasan pedesaan.
Namun, ia juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi saat ini turut memberikan dampak positif dalam mengurangi eksploitasi hasil hutan melalui pemanfaatan berbagai material alternatif bangunan, seperti rangka baja ringan, kusen aluminium, hingga aluminium composite panel(ACP).
Dalam arahannya di depan para akademisi, Gubernur juga mengingatkan kembali memori kolektif mengenai pengalaman masa lalu ketika bencana kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera Selatan sempat menjadi sorotan tajam dari negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Ia menilai kondisi perubahan iklim global saat ini sudah jauh berubah dan semakin sulit diprediksi dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, ketika siklus musim hujan dan kemarau masih sangat mudah untuk diperkirakan.
Oleh karena itu, Deru mengajak seluruh generasi muda dan kalangan mahasiswa untuk bergerak bersama dan menempatkan diri sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan serta lingkungan demi keberlangsungan kehidupan di masa mendatang.
Menurutnya, Festival Kehutanan ini harus menjadi momentum penting untuk meningkatkan literasi lingkungan di kalangan civitas akademika.
Meskipun aksi penanaman pohon dalam kegiatan tersebut dilakukan secara simbolis, ia optimistis semangat para mahasiswa akan terus tumbuh untuk menjadikan lingkungan kampus mereka sebagai kawasan hijau dan paru-paru kota.
“Sekarang iklim sudah anomali. Sudah hampir Juni tapi masih hujan. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” kata dia. (Tia)














