Guru dan Orang Tua SDN 30 Palembang Perkuat Pendidikan ABK

Palembang,Focuskini

Pendidikan bermutu bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) bukan hanya soal membuka akses masuk sekolah. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana sekolah mampu menyiapkan sistem, strategi, dan sumber daya manusia agar setiap anak, dengan karakter dan kebutuhan berbeda, dapat berkembang optimal.

Di SD Negeri 30 Palembang, komitmen itu diwujudkan melalui penguatan peran kepala sekolah dan guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang adaptif dan humanis.
Kepala sekolah, Zainuri Ak, S.Pd menegaskan bahwa kepemimpinan di sekolah inklusif tidak cukup hanya bersifat administratif. Seorang kepala sekolah harus mampu menjadi pengayom, teladan, sekaligus pengarah bagi seluruh warga sekolah, terutama dalam menangani siswa ABK.

“Sebagai pimpinan tertinggi di lingkungan sekolah, kepala sekolah harus mampu memahami kebutuhan anak berkebutuhan khusus dan memastikan guru tidak salah arah dalam mendidik mereka,” ujarnya.

Menurut dia, mendidik siswa ABK menuntut kesabaran, keikhlasan, dan strategi yang tepat. Tantangan paling nyata di ruang kelas adalah membangun fokus dan konsentrasi belajar siswa. Guru dituntut mampu menggunakan nada bicara yang jelas, artikulasi tegas, serta pendekatan komunikasi yang konsisten agar siswa dapat menerima materi dengan baik.

Namun, Zainuri menekankan bahwa kunci utama bukan hanya pada metode, melainkan pada keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk belajar.

“Ketika guru memiliki keyakinan bahwa semua anak bisa berkembang, prosesnya akan terasa lebih ringan. Selama strategi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, pembelajaran bisa berjalan efektif,” katanya.

Sambungnya, setiap anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan kepribadian yang berbeda. Ada yang membutuhkan pengulangan materi lebih intensif, ada pula yang memerlukan pendekatan visual atau aktivitas praktik untuk memahami pelajaran.

Karena itu, prinsip pengajaran bagi siswa ABK tidak dapat disamaratakan. Guru harus menyiapkan metode alternatif yang dirancang secara khusus agar materi dapat diterima secara maksimal.

“Metode pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus tentu berbeda. Ada pendekatan lain yang harus dipersiapkan agar mereka dapat belajar optimal,” jelasnya.

Ia menambahkan, menjaga suasana hati saat mengajar juga menjadi faktor penting. Guru dituntut tetap sabar dan konsisten, terutama ketika menghadapi dinamika perilaku siswa di kelas. Stabilitas emosi guru, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap respons dan kenyamanan belajar anak.

“Peran sekolah tidak bisa berdiri sendiri. Pendidikan anak berkebutuhan khusus memerlukan kolaborasi erat antara guru dan orang tua. Dukungan di rumah menjadi faktor penentu keberlanjutan proses belajar yang telah dirintis di sekolah.

Orang tua diharapkan memahami karakter anaknya serta menerapkan pola pendampingan yang selaras dengan strategi pembelajaran di sekolah. Dengan komunikasi yang terjalin baik, perkembangan anak dapat dipantau secara berkesinambungan.

Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan komitmen moral untuk memastikan setiap anak, tanpa kecuali, memperoleh kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan berkualitas,” pungkasnya. (hasan)