Palembang Masukkan Bahasa Daerah ke Kurikulum Sekolah

Palembang, Focuskini

Di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan mengikis identitas lokal, Pemerintah Kota Palembang mengambil langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang, upaya revitalisasi Bahasa Palembang kini mulai digerakkan secara sistematis melalui dunia pendidikan.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menyusun Kamus Bahasa Palembang yang nantinya akan menjadi rujukan resmi bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Penyusunan kamus ini menjadi bagian dari program pembinaan dan pengembangan bahasa daerah yang tengah digencarkan pemerintah.

Kepala Seksi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdik Kota Palembang, Drs. Maju Partogi Simanjuntak, M.Si, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Wali Kota Palembang Nomor 28 Tahun 2023 yang menetapkan Bahasa Palembang sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah.

“Komitmen kami bukan hanya menetapkan kebijakan, tetapi juga memastikan guru memiliki perangkat pembelajaran yang memadai. Karena itu kami menyusun kamus Bahasa Palembang sebagai referensi utama bagi guru. Sebelumnya kami juga telah melakukan revisi modul untuk guru dan siswa,” ujarnya.

Dalam implementasinya nanti, sambung Maju Partogi, Bahasa Palembang akan diajarkan kepada siswa SD kelas IV, V, dan VI, serta SMP kelas VII, VIII, dan IX. Kebijakan ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk menanamkan kembali kebanggaan terhadap bahasa daerah di kalangan generasi muda.

Menurut Maju Partogi, selama ini salah satu kendala terbesar dalam pengajaran bahasa Palembang adalah minimnya referensi akademik. Buku, kamus, maupun bahan ajar yang tersedia masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat upaya pembelajaran bahasa daerah belum berjalan maksimal.

Padahal, jika tidak segera dilakukan langkah nyata, bahasa daerah berpotensi semakin terpinggirkan oleh dominasi bahasa nasional dan bahasa asing.

“Bahasa Palembang perlu direvitalisasi. Dengan masuknya bahasa ini ke dalam kurikulum sekolah, anak-anak tidak hanya mempelajarinya di kelas, tetapi juga akan membawanya ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dari situ budaya bebahaso Palembang bisa hidup kembali,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam proses penyusunan materi pembelajaran, Disdik Palembang tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng Balai Bahasa, budayawan, serta para penggiat bahasa Palembang agar materi yang disusun memiliki landasan linguistik dan budaya yang kuat. Para budayawan bahkan dilibatkan langsung sebagai narasumber dalam proses penyusunan kamus dan bahan ajar.

Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Hingga saat ini belum ada perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Bahasa Palembang, sehingga belum tersedia tenaga pendidik yang memiliki latar belakang akademik khusus di bidang tersebut.

Untuk mengatasi keterbatasan itu, Disdik Palembang sementara waktu melakukan pelatihan khusus bagi guru yang memiliki kemampuan dasar dan minat terhadap bahasa daerah. Ke depan, para guru tersebut akan mengikuti pelatihan lanjutan serta proses sertifikasi agar dapat menjadi pengajar Bahasa Palembang yang kompeten.

Di sisi lain, pemerintah kota juga berencana mendorong perguruan tinggi di Palembang agar membuka Program Studi Bahasa Daerah, khususnya Bahasa Palembang, guna menyiapkan tenaga pendidik yang lebih profesional di masa depan.

Tak hanya berhenti pada pembelajaran di kelas, Disdik juga tengah merancang program pembiasaan penggunaan bahasa Palembang di lingkungan sekolah. Beberapa gagasan yang tengah disiapkan antara lain program satu hari berbahasa Palembang, penggunaan bahasa Palembang dalam sapa pagi di sekolah, hingga berbagai kegiatan budaya yang melibatkan siswa.

Melalui berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kota Palembang berharap Bahasa Palembang tidak sekadar menjadi mata pelajaran formal, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya.

“Harapan kami, bahasa Palembang tetap terjaga, tetap jaya, dan menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda melalui kearifan lokal,” pungkasnya. (hasan)