Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Matangkan Persiapan Produksi B50

Palembang,Focuskini

Pertamina Patra Niaga Refinery Unit III Plaju menyambut baik rencana implementasi mandatori Biodiesel B50 (campuran 50% bahan bakar nabati) untuk mendukung kedaulatan energi nasional.

General Manager RU III Khabibullah Khanafie mengatakan, Kilang Plaju telah menyesuaikan konfigurasi dan sarana fasilitas (sarfas) agar mampu mengolah diesel dengan campuran (blending) 50% bahan baku FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Sebelumnya, Kilang Plaju telah memproduksi B40 sejak Januari 2025.

Ia memastikan, dengan konfigurasi yang dimiliki saat ini, produk B50 yang nantinya dihasilkan memiliki spesifikasi sesuai dengan spesifikasi Dirjen Migas sehingga kualitas dan kelayakan produknya terjaga di pasar.

Sebagai informasi, B50 adalah campuran bahan bakar nabati berbasis CPO atau sawit, yaitu Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Kadar FAME di produk B50 sebesar 50%, sementara 50% sisanya merupakan diesel/solar.

Khanafie mengatakan, Kilang Plaju mampu memproduksi seluruh kebutuhan solar dari seluruh unit operasi, dan menerima produk FAME pemasok melalui fasilitas Jetty (dermaga) 7 di area Kilang Plaju.

“Masih bisa kita handle selagi pihak supplier (perusahaan pemasok) dapat menjaga ketepatan waktu kedatangan FAME di Kilang Plaju,” ujar Khanafie saat menyambut kunjungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Plaju, Jumat (24/4/2026).

Pada dasarnya, lanjut Khanafie, Kilang Plaju yang saat ini telah berusia 122 tahun atau satu abad lebih sejak dibangun pada 1904 adalah kilang tertua yang masih beroperasi, dengan peralatan dan teknologi yang telah diperbaharui.

“Kilang Plaju memiliki konfigurasi yang kompleks sesuai desain kilang saat dibangun, namun kami pastikan semua pekerja berintegritas tinggi, ditambah semua peralatan kami pastikan terbaru dan sesuai versi yang terus berkembang, mematuhi izin operasi dari pemerintah,” lanjutnya saat menjelaskan overview Kilang Plaju. Sehingga, kata dia, produksi B50 sebagai bahan bakar yang lahir dari inovasi di masa kini, masih terasa relevan untuk dilakukan.

Sementara, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah menjelaskan, kedatangannya bersama Kementerian ESDM, bersama PT Surveyor Indonesia dan dua tenaga ahli dari kampus Universitas Pertamina & Universitas Sriwijaya itu dalam rangka monitoring & evaluasi.

“Yang kita bahas adalah kesiapan B50 yang rencananya akan diproduksi mulai Juli 2026 nanti, sembari terus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM yang akan segera menerbitkan spesifikasi produk B50 untuk badan usaha,” ujar Alfansyah usai meninjau sarana dan fasilitas di area Kilang Plaju.

BPDP, ujar dia, menggandeng PT Surveyor Indonesia dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) untuk pengujian produk B50 nantinya.

Komitmen Kilang Plaju dalam mempersiapkan produksi B50 merupakan langkah nyata perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional, serta sejalan dengan visi Asta Cita Presiden RI, khususnya pada poin melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi.

Dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik berbasis kelapa sawit, Kilang Plaju terus berupaya menyediakan energi yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan demi menjaga ketahanan energi masa depan Indonesia.(soim)