Palembang,Focuskini
Pendidikan karakter tidak bisa menunggu anak dewasa. Ia harus dimulai sejak usia emas, ketika nilai dan kebiasaan masih mudah dibentuk. Melalui program “Selasa Berbudaya”, anak-anak PAUD dan TK diperkenalkan pada ragam budaya Nusantara dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Setiap pekan, anak-anak datang ke sekolah mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Dari busana tradisional Sumatera hingga Papua, ruang kelas berubah menjadi miniatur keberagaman Nusantara. Namun kegiatan ini bukan sekadar parade kostum.
Guru menjadikan momen tersebut sebagai sarana edukasi untuk mengenalkan asal-usul pakaian adat, nilai filosofisnya, hingga pesan moral yang terkandung di dalamnya. Anak-anak diajak memahami bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan penghalang.
Bunda PAUD Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menegaskan bahwa penggunaan pakaian tradisional memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tampilan luar.
“Memakai pakaian adat bukan hanya mengenalkan busana tradisional, tetapi juga menanamkan nilai kebhinekaan, kreativitas, dan budi pekerti sesuai karakter bangsa,” ujarnya.
Menurut Dewi, sejak usia dini anak perlu memahami bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman.
“Walaupun berbeda-beda, kita tetap satu karena hidup dalam bingkai Pancasila. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa budaya Indonesia sangat beragam, mulai dari bahasa, makanan, hingga pakaian adat,” katanya.
Ia menekankan, pendidikan anak usia dini merupakan fondasi pembentukan karakter. Apa yang ditanamkan pada fase ini akan membentuk pola pikir dan sikap anak di masa depan.Sejalan dengan kebijakan terbaru, Pemerintah Kota Palembang kini menerapkan program wajib belajar 13 tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah atau PAUD sebelum masuk SD.
“Kebijakan ini mempertegas bahwa pendidikan usia dini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar.
Kami akan terus mensosialisasikan pentingnya pendidikan sejak dini, agar anak-anak tumbuh mandiri, berilmu, sekaligus berkarakter,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kota Palembang, Andalusia, menilai kegiatan berpakaian adat Nusantara menjadi media efektif untuk membangun toleransi sejak dini.
Di TK Global Mandiri, misalnya, anak-anak secara bergiliran mengenakan pakaian adat dari berbagai provinsi. Mereka juga diberi kesempatan tampil di depan kelas untuk memperkenalkan pakaian yang dikenakan, sehingga melatih rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi.
“Setiap minggu anak-anak berganti pakaian adat dari daerah berbeda. Orang tua mendukung penuh, bahkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah berbudaya ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan orang tua menjadi faktor penting keberhasilan program. Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Dukungan keluarga memperkuat pesan yang ditanamkan guru di kelas.
“Program “Selasa Berbudaya” juga dipandang sebagai bentuk antisipasi terhadap derasnya arus budaya populer global yang begitu mudah diakses anak melalui gawai. Tanpa penguatan identitas sejak dini, generasi muda berisiko kehilangan kedekatan dengan akar budayanya sendiri,” katanya.
Dia menambahkan, melalui kegiatan sederhana namun konsisten, anak-anak diperkenalkan pada identitas bangsa dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar menghargai perbedaan, menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari Indonesia, sekaligus memahami makna persatuan.
“Langkah ini menunjukkan bahwa membangun generasi berkarakter tidak selalu membutuhkan program besar dan mahal. Dari ruang kelas PAUD, dengan balutan pakaian adat dan senyum polos anak-anak, nilai kebhinekaan mulai ditanamkan pelan namun pasti,” pungkasnya. (hasan)












