SMA Negeri 20 Palembang Ajukan Tambahan 9 Kelas ke Pusat

Palembang, Focuskini

Di tengah keterbatasan ruang belajar yang masih membayangi sejumlah sekolah negeri di Kota Palembang, SMA Negeri 20 Palembang justru menunjukkan semangat gotong royong yang kuat antara sekolah dan orang tua siswa. Melalui peran aktif komite sekolah, langkah nyata dilakukan untuk memperluas fasilitas pendidikan demi kenyamanan proses belajar mengajar.

Kepala SMA Negeri 20 Palembang, Dra. Hj. Indrita Kelana Sopuan, M.Si, mengungkapkan bahwa dukungan orang tua siswa melalui komite sekolah menjadi energi penting bagi sekolah dalam menjawab berbagai keterbatasan sarana.

Menurutnya, salah satu kontribusi terbesar yang berhasil diwujudkan bersama adalah pembelian lahan tambahan yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas baru.

“Peran komite sekolah sangat luar biasa. Mereka membantu sekolah membeli lahan yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas baru,” ujarnya.

Lahan tersebut berada di bagian belakang kompleks sekolah dengan luas sekitar 1.000 meter persegi. Area ini direncanakan menjadi lokasi pembangunan gedung Ruang Kelas Baru (RKB) yang diharapkan mampu mengatasi keterbatasan ruang belajar yang selama ini dihadapi sekolah.

Selama beberapa tahun terakhir, SMA Negeri 20 Palembang masih harus menjalankan sistem pembelajaran dua shift, yakni pagi dan siang. Kondisi ini membuat durasi setiap jam pelajaran terpaksa dipersingkat.

“Jam pelajaran hanya sekitar 30 menit, padahal idealnya 45 menit. Walaupun begitu, kami tetap berupaya menjalankan Kurikulum Merdeka secara maksimal agar materi pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik,” jelasnya.

Akibat sistem pembelajaran bergilir tersebut, kegiatan belajar mengajar juga berlangsung hingga enam hari dalam seminggu, dari Senin hingga Sabtu, agar seluruh siswa tetap mendapatkan hak belajar yang memadai.

Indrita menambahkan, saat ini SMA Negeri 20 Palembang didukung oleh 74 tenaga pendidik dan staf tata usaha yang terus berupaya menjaga kualitas pendidikan meski dihadapkan pada keterbatasan ruang.

Namun kondisi jadwal belajar yang padat juga berdampak pada aktivitas pengembangan minat dan bakat siswa. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Rohis, Paskibraka, futsal, voli, basket, hingga Tapak Suci tetap berjalan, tetapi belum dapat berlangsung secara maksimal.

“Karena siswa shift siang pulangnya cukup sore, beberapa kegiatan ekstrakurikuler harus dilakukan pada akhir pekan, bahkan hari Minggu,” ungkapnya.

Untuk mengakhiri sistem double shift secara permanen, kata Indrita, SMA Negeri 20 Palembang memperkirakan membutuhkan 12 ruang kelas baru. Hingga saat ini, pemerintah daerah melalui APBD Sumatera Selatan telah membantu pembangunan tiga ruang kelas.

Artinya, sekolah masih membutuhkan sembilan ruang kelas tambahan agar seluruh kegiatan belajar dapat berlangsung dalam satu waktu tanpa sistem bergilir.Pihak sekolah pun telah mengajukan proposal pembangunan ruang kelas baru kepada pemerintah pusat melalui dukungan anggaran APBN.

Indrita berharap, upaya tersebut mendapat perhatian sehingga kebutuhan ruang belajar di sekolah dapat segera terpenuhi.

“Jika ruang kelas baru bisa terealisasi, sistem double shift bisa dihapus. Dengan begitu, pembelajaran akan lebih efektif dan kegiatan siswa, termasuk ekstrakurikuler, bisa berjalan lebih optimal,” tutupnya. (hasan)