Palembang,Focuskini
Penguatan kualitas perguruan tinggi tak lagi cukup diukur dari jumlah mahasiswa atau fasilitas fisik. Di UIN Raden Fatah Palembang, tolok ukurnya kini bergeser pada kedalaman keilmuan ditandai dengan lahirnya empat guru besar baru yang resmi dikukuhkan, Jumat (17/4/2026).
Momentum ini menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Empat profesor yang dikukuhkan hadir dari bidang-bidang kunci yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat inovasi pendidikan, penguatan ekonomi syariah, hingga strategi pembelajaran agama yang adaptif di tengah perubahan zaman.
Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Muhammad Adil, menegaskan bahwa capaian tersebut mencerminkan arah transformasi kampus yang semakin serius membangun tradisi akademik berbasis riset dan kontribusi nyata.
“Profesor bukan sekadar gelar akademik tertinggi. Di balik itu ada tanggung jawab besar untuk melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Dengan tambahan ini, jumlah guru besar di kampus tersebut mencapai 39 orang. Namun bagi Adil, angka itu bukan tujuan akhir. Justru, keberadaan para profesor diharapkan menjadi motor penggerak perubahan baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun dalam menjawab persoalan riil di tengah masyarakat.
Ia menekankan, perguruan tinggi kini dituntut melampaui peran tradisionalnya. Tidak cukup hanya mencetak lulusan, tetapi juga harus menjadi pusat lahirnya pemikiran strategis yang mampu menjawab tantangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Tema yang diusung dalam pengukuhan kali ini, “Educonomi Inovatif untuk Generasi Kreatif”, memperlihatkan arah baru tersebut. Integrasi antara pendidikan dan ekonomi dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga produktif dan mandiri.
Konsep educonomi, menurut Adil, menjadi jawaban atas keterbatasan model pembangunan lama yang terlalu bertumpu pada sumber daya alam. Pergeseran menuju ekonomi berbasis pengetahuan menuntut peran aktif akademisi dalam menghasilkan riset yang berdampak langsung.
Di sisi lain, potensi penguatan akademik masih terbuka lebar. Puluhan dosen dengan jabatan lektor kepala disebut tengah berada di jalur yang sama untuk meraih gelar profesor, mempertebal barisan intelektual kampus dalam beberapa tahun ke depan.
Capaian ini juga sejalan dengan peningkatan posisi kelembagaan di tingkat nasional. UIN Raden Fatah Palembang terus mencatat tren positif dalam berbagai pemeringkatan, mempertegas daya saingnya di antara perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.
Namun, Adil mengingatkan, gelar profesor bukanlah garis finis. Justru dari titik itu, tuntutan pengabdian semakin besar menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman, sekaligus memastikan hasil riset benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
” Pengukuhan ini pada akhirnya menjadi penanda perguruan tinggi tak boleh berjalan di tempat. Ia harus terus bergerak, melahirkan pemikir, dan mengambil peran sebagai pengarah masa depan bangsa,” pungkasnya. (Has)














